Pembelajaran Bahasa Indonesia Perlu Direposisi

JAKARTA, KOMPAS.com – Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah harus direposisi. Pasalnya, orientasi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah hanya untuk memenuhi target kurikulum, bukan memberdayakan kompetensi berbahasa siswa.

Orientasi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah hanya untuk memenuhi target kurikulum, bukan memberdayakan kompetensi berbahasa siswa.

Hasilnya, pembelajaran bahasa Indonesia tidak optimal, kurang variatif, dan terkesan monoton. Pembelajaran bahasa Indonesia tidak mendorong peningkatan keterampilan berbahasa siswa.

“Jika mau memakai ukuran hasil ujian nasional bahasa Indonesia SMP dan SMA, nilai rata-rata UN bahasa Indonesia beberapa tahun belakangan ini memprihatinkan. UN Bahasa Indonesia untuk SMP tahun ini saja terendah yakni 7,49 dari pelajaran Matematika dan IPA. Justru nilai rata-rata UN Bahasa Inggris yang teratas,” kata Syarifudin Yunus, Dosen bahasa dan sastra Universitas Indrtaprasta PGRI dalam penyelenggaraan Festival Bulan Bahasa II Universitas Indrtaprasta PGRI di Jakarta, Kamis (3/11/2011).

Menurut Syarifudin, hasil akhir pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah belakangan ini tidak sejalan dengan perjalanan panjang bahasa Indonesia dalam membuktikan eksistensinya. Bahasa Indonesia sudah dinobatkan selama 83 tahun sebagai identitas bangsa pada Sumpah pemuda 1928. Ada juga perangkat aturan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang berusia 39 tahun dan keberadaan Kamus besar Bahasa Indonesia yang sudah berusia 22 tahun.

Kenyataan ini memprihatinkan jika bahasa Indonesia tidak mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kata Syarifudin.

Syarifudin mengatakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru berperan dalam menyesuaikan materi ajar dengan kesempatan siswa untuk menerapkan praktik berbahasa dan pengembangan nalar tentang bahasa Indonesia.

“Pembelajaran bahasa Indonesia bukan untuk membuat siswa jadi ahli-ahli bahasa. Justru yang penting bagaimana membuat siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan keperluan dalam hidup. Siswa perlu lebih banyak ruang untuk membaca, mendengar, menuliskan, dan membicarakan pengetahuan dan pengalaman melalui bahasa Indonesia,” jelas Syarifudin.

Sumaryoto, Rektor Universitas Indrtaprasta PGRI, mengatakan bahasa Indonesia kian hari kian redup dan tertelan perkembangan jaman.

“Bahasa Indonesia semakin dianaktirikan yang juga berakibat pada ketidakpedulian. Apalagi sekarang, mulai marak sekolah dan perguruan tinggi yang menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar,” ujar Sumaryo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: