UKBI

Sekilas tentang UKBI

UKBI adalah instrumen pengujian kemahiran berbahasa Indonesia yang dikembangkan oleh Pusat Bahasa. Dengan instrumen ini, setiap orang atau instansi dapat memperoleh informasi yang akurat tentang profil kemahiran berbahasa Indonesianya. UKBI telah menjadi sarana pengukuran yang berstandar nasional, sesuai dengan Keputusan Mendiknas Republik Indonesia Nomor 152/U/2003. UKBI dikembangkan berdasarkan teori penyusunan tes modern dan telah diujicobakan kepada berbagai lapisan masyarakat dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk sejumlah penutur asing. Hasilnya menunjukkan bahwa skor UKBI secara keseluruhan mempunyai korelasi yang tinggi, baik dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan maupun dengan kenyataan kemampuan berbahasa Indonesia seseorang.

Komposisi Soal

UKBI diwujudkan dalam bentuk baterai A, B, C, dan D. Atas dasar bobot soal atau tingkat kesukarannya, baterai UKBI dibedakan menjadi dua tipe, yaitu Tipe 1 dan Tipe 2. Tipe 1 dirancang bagi mereka yang memiliki kebutuhan komunikasi yang lebih kompleks untuk tujuan vokasional dan/atau akademik. Sementara itu, Tipe 2 dirancang bagi mereka yang memiliki kebutuhan komunikasi yang lebih sederhana untuk tujuan sosial dan/atau sintas (survival). Dengan demikian, soal dalam baterai Tipe 1 memiliki tingkat kesukaran yang lebih tinggi atau bobot yang lebih berat daripada soal dalam baterai Tipe 2.

Peserta

UKBI terbuka bagi setiap orang, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing, yang ingin mengetahui peringkat kemahirannya berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. UKBI sangat diperlukan bagi tenaga pendidik di Indonesia untuk mengetahui standar kemampuan berbahasa Indonesia dalam mengomunikasikan materi ajarnya. UKBI diperlukan pula bagi peserta didik sesuai dengan Kurikulum Edisi 2004. Di dalam kurikulum tersebut telah ditetapkan Garis-Garis Besar Program Pendidikan dan Pelatihan Bahasa Indonesia untuk murid SMK. Evaluasi terhadap kompetensi peserta didik dilakukan dengan dua jalur penilaian, yaitu penilaian internal dengan tes buatan guru dan penilaian eksternal dengan tes baku yang disebut UKBI. Dengan demikian, UKBI merupakan tes baku dalam penyelenggaraan pendidikan di SMK. UKBI juga dapat dimanfaatkan oleh instansi pemerintah dan swasta yang ingin mengetahui tingkat kemahiran berbahasa Indonesia karyawannya.

Biaya

Biaya uji bervariasi berdasarkan materi dan tempat pelaksanaan uji.

Pendaftaran

Setiap orang dapat mendaftarkan diri sebagai peserta UKBI melalui faksimile, telepon, pos-el (e-mail), atau datang langsung ke Balai Bahasa Bandung pada hari kerja. Setelah melengkapi semua syarat pendaftaran (menunjukkan kartu identitas, melunasi biaya uji, dan menyerahkan dua lembar pasfoto terbaru ukuran 3×4 cm), peserta uji akan memperoleh konfirmasi tentang pelaksanaan uji. Sebagai gambaran awal mengenai UKBI, peserta dapat mengikuti UKBI prediksi, dengan jumlah peserta minimal lima orang dan membayar biaya sebesar Rp20.000,00 per orang. Pada UKBI prediksi ini, peserta hanya akan memperoleh hasil uji, bukan mendapat sertifikat.

Pelaksanaan

UKBI dilaksanakan di Balai Bahasa Bandung atau di lokasi yang telah ditentukan bersama. Pada hari uji, peserta harus membawa kartu identitas (KTP, SIM, Paspor, Kartu Mahasiswa, atau Kartu Pelajar), bukti pelunasan biaya, dan perlengkapan (pensil 2B, rautan, dan penghapus). Peserta uji harus hadir di tempat uji tiga puluh menit sebelum dimulai.

Penyampaian Hasil Tes

Dua minggu setelah pelaksanaan uji, peserta tes akan memperoleh hasil yang berupa Sertifikat UKBI jika skor yang diperoleh sekurang-kurangnya 162. Jika skor tidak mencapai 162, peserta hanya menerima surat pemberitahuan hasil uji, bukan sertifikat UKBI. Sertifikat UKBI atau surat pemberitahuan akan dikirimkan ke alamat yang ditentukan bersama atau diambil oleh peserta yang bersangkutan di tempat pendaftaran.

Tafsiran Skor Hasil UKBI

I. Istimewa (816-900) Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang sempurna dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan akademik dan lain-lain, yang bersangkutan tidak mengalami kendala.
I. Sangat Unggul (717-815) Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang sangat tinggi dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan akademik yang kompleks, yang bersangkutan mungkin masih mengalami kendala, tetapi tidak untuk keperluan yang lain.
III. Unggul (593-716) Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang tinggi dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan akademik dan vokasional yang kompleks, yang bersangkutan mungkin masih mengalami kendala.
IV. Madya (466-592) Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang cukup dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan vokasional yang kompleks, yang bersangkutan masih mengalami kendala dan kendala tersebut makin besar dalam berkomunikasi untuk keperluan akademik.
V. Semenjana (346-465) Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang cukup dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan akademik, yang bersangkutan sangat terkendala. Untuk keperluan vokasional dan sosial yang kompleks, yang bersangkutan masih mengalami kendala, tetapi tidak terkendala untuk keperluan vokasional dan sosial yang tidak kompleks.
VI. Marginal (247-345) Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang kurang dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan sosial yang tidak kompleks, termasuk keperluan sintas (survival), yang bersangkutan tidak mengalami kendala. Akan tetapi, untuk keperluan sosial yang kompleks, yang bersangkutan masih mengalami kendala. Hal ini berarti yang bersangkutan belum siap berkomunikasi untuk keperluan vokasional, apalagi untuk keperluan akademik.
VII. Terbatas (162-246) Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang sangat kurang dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dengan kemahiran ini, yang bersangkutan hanya siap berkomunikasi untuk keperluan sintas (survival). Pada saat yang sama, predikat ini juga menggambarkan potensi yang bersangkutan dalam berkomunikasi masih sangat besar kemungkinannya untuk ditingkatkan.
Tafsiran ini lebih akurat bila skor tersebut berasal dari Baterai A.

Catatan

UKBI adalah instrumen pengujian kemahiran berbahasa Indonesia yang dikembangkan oleh Pusat Bahasa. Dengan instrumen ini, setiap orang atau instansi dapat memperoleh informasi yang akurat tentang profil kemahiran berbahasa Indonesianya.
Yang berminat untuk mengikuti UKBI, silakan hubungi kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: