Selamat Hari Guru

Jakarta – Belasan siswa SMA & SMK memperingati Hari Guru dengan membentangkan kain putih sepanjang 600 meter mengelilingi Bundaran Hotel Indonesia (HI). Mereka menggalang dukungan untuk sang guru.

Kain putih itu penuh dengan tanda tangan yang dibubuhkan ribuan siswa SMA dan SMK.

“Ini kita lakukan untuk memberi dorongan moril kepada kerja-kerja guru yang terlupakan. Banyak yang tidak tahu sekarang Hari Guru,” kata salah satu koordinator dari SMA 2 Bogor, Bagus Tito, di sela-sela aksi damai di Bundaran HI, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (25/11/2011).

Aksi tersebut didukung oleh sekitar 60 sekolah yang tergabung dalam Forum Osis Nusantara. Tiap-tiap sekolah dari Jakarta dan daerah mengirim kain sepanjang 10 meter yang sudah diberi tanda tangan dukungan.

Kemudian, kain itu dijahit dan dibentangkan mengelilingi salah satu ikon Indonesia tersebut.

“Selain dukungan moral kepada guru, ini juga kritik kepada siswa-siswi yang semakin tidak hormat dan santun kepada guru. Kami berharap, peran guru tidak diabaikan, ujar Bagus Tito.

Aksi yang berlangsung dari pukul 09.00 WIB ini sempat menyita perhatian para pengendara yang melintas. Mereka berusaha membaca sekilas pesan yang tertulis dalam spanduk tanda tangan tersebut.

“Selamat Hari Guru, guruku pahkawanku,” tulis para siswa di salah satu spanduk tanda tangan tersebut.

(Ari/aan)


Iklan

Merawat Bahasa Indonesia

Oleh Salahuddin Wahid

Dari tiga butir Sumpah Pemuda, mungkin sumpah ketiga yang tidak banyak mengandung masalah.

Kita mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Namun, tanah yang satu itu sudah banyak yang dikuasai oleh pihak luar negeri, lebih banyak untuk kepentingan mereka dibandingkan dengan untuk kepentingan anak bangsa (kecuali segelintir pejabat dan pengusaha). Kesatuan wilayah Tanah Air itu kita pertahankan dengan kekerasan terhadap anak bangsa di sejumlah tempat yang memprotes ketidakadilan.

Kita mengaku berbangsa yang satu, yaitu bangsa Indonesia, tetapi rasa berbangsa satu itu kian menipis. Sejumlah daerah ingin melepaskan diri dari bangsa Indonesia karena merasa diperlakukan tidak adil.

Kondisi bangsa kita amat menyedihkan sehingga makin banyak yang mengatakan bahwa kita adalah ”bangsa kuli dan kulinya bangsa-bangsa”. Jarang ada tulisan yang bernada positif tentang kondisi bangsa Indonesia.

Kita bertekad bahwa sebagai putra dan putri Indonesia, kita akan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tampaknya butir ketiga dari Sumpah Pemuda itulah yang masih tersisa dari ketiga butir Sumpah Pemuda. Memang ada sejumlah masalah dalam perkembangan bahasa Indonesia, tetapi secara keseluruhan masih bisa dianggap baik.

Pilihan yang tepat

Semula Mr Mohammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu, bukan bahasa Indonesia, dengan alternatif bahasa Jawa. Namun, Sanusi Pane menolak. Menurutnya, bahasa persatuan bagi nusa dan bangsa Indonesia haruslah bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu ataupun bahasa Jawa.

Pilihan para pemuda terhadap bahasa Melayu sebagai bahan baku bahasa Indonesia adalah pilihan yang tepat. Kebesaran jiwa para pemuda dari suku Jawa untuk tidak mengusulkan bahasa Jawa perlu dihargai. Para cendekiawan dari berbagai daerah di Nusantara itu memahami bahwa bahasa Melayu adalah lingua franca yang betul-betul hidup di seluruh wilayah Nusantara.

Dari prasasti yang ditemukan di Palembang, Sumatera Selatan, (683 Masehi), dapat diketahui bahwa bahasa Melayu (kuno) sudah digunakan sebagai alat komunikasi masyarakat pada saat itu. Prasasti itu menggunakan bahasa Melayu kuno dalam tulisan menggunakan aksara Pallawa. Karena Kerajaan Sriwijaya punya pengaruh luas di Nusantara, warga di wilayah Nusantara yang berinteraksi dengan Sriwijaya juga memakai bahasa Melayu.

Sriwijaya maju dalam kesusastraan dan ilmu pengetahuan (agama). Pada abad XIV, Kerajaan Malaka merdeka. Malaka punya pengaruh besar pada wilayah timur Nusantara. Penyebaran bahasa Melayu sejalan dengan penyebaran agama Islam. Namun, perkembangan bahasa Melayu tidak menghilangkan bahasa daerah.

Penjajah Belanda mengalami kesulitan berkomunikasi dengan warga di berbagai daerah yang punya dialek lokal. Satu-satunya pilihan adalah menggunakan bahasa Melayu. Menurut Brugmans, yang dikutip dalam buku Suhendar (1998), bahasa Melayu digunakan Belanda untuk mengadakan perjanjian dengan raja-raja taklukan, penyebaran agama Kristen, dan komunikasi antara penduduk pribumi dan Belanda.

Memang ada upaya dari Prof Kem pada 1890 untuk menghambat perkembangan bahasa Melayu. Dia menyerukan dibentuknya lembaga propaganda bahasa Belanda untuk meningkatkan derajat sosial bangsa Bumiputera dengan berbahasa Belanda dan juga derajat pekerjaan mereka.

Bukan tanpa masalah

Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa pengikat dan bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana menyebutnya sebagai salah satu mukjizat abad ini.

Bahasa Indonesia telah ditetapkan oleh UUD 1945 menjadi bahasa negara. Di beberapa negara, bahasa Indonesia telah dipelajari. Namun, tidak berarti bahwa keberadaan bahasa Indonesia bukan tanpa masalah.

Pada 2010, kita membaca berita bahwa banyak ketidaklulusan siswa SMA/MA/SMK dalam ujian nasional disebabkan oleh kegagalan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Fakta itu menunjukkan bahwa mutu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia amat rendah sehingga tidak mampu memberi kemampuan minimal untuk bisa lulus.

Perlu dikaji apakah hal itu terjadi karena kurikulum yang ada atau memang karena rendahnya mutu guru. Pelajaran Bahasa Indonesia tak mendapat perhatian memadai dari siswa dan juga guru-guru. Jarang kepala sekolah yang memperhatikan rendahnya angka siswa dalam ujian nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Salah satu faktor yang mengganggu perkembangan bahasa Indonesia ialah pengaruh ”bahasa gaul”. Kalau itu dilakukan dalam bahasa lisan, SMS, Twitter, atau dalam pertunjukan di panggung dan televisi, masih bisa kita pahami. Namun, ternyata di dalam tugas mahasiswa dan makalah juga digunakan bahasa gaul semacam itu.

Kalau praktik semacam itu terus dibiarkan, kita khawatir kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar oleh para tamatan universitas akan menurun. Kalau hal tersebut terus terjadi, bukan tidak mungkin suatu hari kelak kita sulit memahami laporan yang ditulis oleh para sarjana lulusan perguruan tinggi di negeri ini.

Kebiasaan buruk lain ialah kegemaran menyerap bahasa asing, khususnya Inggris, di dalam percakapan sehari-hari atau pidato oleh para pejabat, termasuk (maaf) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan untuk kata-kata yang sudah ada dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, kita juga memakai kata-kata Inggris. Misal kata ”klir” dalam kalimat, ”Masalah itu sudah klir.” Bukankah kita bisa memakai kalimat, ”Masalah itu sudah jelas.” Kita tentu tidak bisa menghindar dari menyerap kata asing, tetapi hendaknya hal itu dilakukan jika memang benar-benar terpaksa.

Rendahnya minat terhadap bahasa Indonesia sedikit banyak akan berpengaruh terhadap minat baca. Studi 0rganization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2006 menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak Indonesia baru mencapai angka 392, jauh di bawah kemampuan rata-rata negara-negara OECD yang ada di angka 492.

Kalau bangsa kita kurang banyak membaca bahan bacaan yang bagus, bisa kita bayangkan seperti apa jadinya bangsa ini di masa depan. Karena itu, kita perlu berjuang untuk merawat bahasa Indonesia sebagai salah satu nikmat dan anugerah Allah kepada bangsa Indonesia. Juga perlu berjuang menumbuhkan minat baca untuk meningkatkan budaya keberaksaraan bangsa.

Salahuddin Wahid Pengasuh Pesantren Tebuireng

 

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/28/03323014/Merawat.Bahasa.Indonesia

“Kompas” Terima Penghargaan Bahasa

JAKARTA, KOMPAS.com – Harian Kompas terpilih sebagai media cetak pengguna Bahasa Indonesia terbaik tingkat nasional.

Penghargaan ini diberikan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam puncak acara Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia 2011 serta Gerakan Nasional Cinta Bahasa Indonesia di Jakarta, Jumat (28/10/2011).

Hadir dalam acara tersebut Wakil Mendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti.

Media cetak kedua yang dinilai terbaik yakni Media Indonesia. Penghargaan lainnya secara berturut-turut diberikan kepada Koran Tempo, Republika, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Rakyat Merdeka, Indopos, dan Pikiran Rakyat.

Selain itu, ada juga penghargaan untuk daerah yang penggunaan bahasa indonesianya baik. Daerah yang menjadi percontohan penggunaan bahasa indonesia yang baik adalah Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Sulawesi Tenggara.

 

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/28/1711114/.Kompas.Terima.Penghargaan.Bahasa.

Para Elite Pun Masih “Menginggriskan” Bahasa Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Penggunaan bahasa Indonesia semakin meluntur. Kebanggaan para elite dan pejabat menggunakan bahasa Indonesia pun dinilai semakin meluntur. Kepala Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Agus Dharma mengatakan, para elite, baik di level eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, cenderung tak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Perhatikan contoh para elite kita yang berbicara dalam bahasa Indonesia. Sudah diajarkan dengan baik, masih diulangi dengan bahasa Inggris. Malu kita.

“Dari perkataan-perkataan mereka, ada kecenderungan tidak bangga menggunakan bahasa Indonesia,” kata Agus.

Agus menilai, para elite yang seharusnya memberikan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat ini justru lebih banyak menyelipkan bahasa asing, terutama Inggris, dalam kata-kata yang diucapkan. Agus mengatakan, hal ini menunjukkan adanya kemunduran besar dalam penggunaan bahasa Indonesia.

“Perhatikan contoh para elite kita yang berbicara dalam bahasa Indonesia. Sudah diajarkan dengan baik, masih diulangi dengan bahasa Inggris. Malu kita” ujarnya.

Ia menjelaskan, padahal pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara Lainnya mengharuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia di dalam atau di luar negeri. Nantinya akan keluar Peraturan Pemerintah (PP) turunan dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009. PP itu akan melahirkan perpres, dan kemudian peraturan menteri (permen) tentang pedoman penggunaan bahasa Indonesia.

“Para elite harus menggunakan bahasa Indonesia, kecuali ketika di luar negeri dan tempatnya mewajibkan bahasa lain,” kata Agus.

 

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/30/16080625/Para.Elite.Pun.Masih.Menginggriskan.Bahasa.Indonesia

Bahasa Indonesia Diusulkan Jadi Bahasa AIPA

JAKARTA, KOMPAS.com — Perwakilan Indonesia dalam pertemuan ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA) di Kamboja mengusulkan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi dalam setiap agenda AIPA, selain bahasa Inggris.

Priyo Budi Santoso, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang ikut dalam pertemuan, mengatakan, usul itu belum sepenuhnya disetujui parlemen negara lain. Negara yang menolak di antaranya Singapura dan Filipina.

“Tapi kita yakinkan nanti mudah-mudahan dalam waktu lama mereka mau setuju gagasan ini,” kata Priyo di Kompleks DPR, Jumat (23/9/2011). Ketua DPR Marzuki Alie masih berada di Kamboja.

Priyo menambahkan, bahasa Indonesia sudah digunakan banyak penduduk negara di ASEAN, seperti separuh di Malaysia, 5 persen penduduk di Moro, Filipina, dan beberapa daerah tertentu di Kamboja.

“Dalam pertemuan parlemen ASEAN yang akan dilaksanakan Oktober tahun depan di Yogyakarta atau Lombok, mudah-mudahan akan disetujui dan lolos secara aklamasi,” pungkas politisi Partai Golkar itu.

 

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2011/09/23/16210197/Bahasa.Indonesia.Diusulkan.Jadi.Bahasa.AIPA

Kebanggaan Berbahasa Indonesia Mulai Luntur

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Penddidikan dan Kebudayaan Agus Dharma mengatakan penggunaan Bahasa Indonesia harus dilestarikan dan dikembangkan.

Namun, penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar justru dapat tantangan dari warga indonesia sendiri yang kini cenderung lebih bangga berbahasa asing.

“Makin marak penggunaan bahasa asing di media massa dan ruang publik. Kita perlu gerakan pemartabatan kembali bahasa indonesia sebagai lambang jati diri bangsa,” kata Agus dalam puncak acara Bulan Bahasa 2011 serta Gerakan Nasional Cinta Bahasa Indonesia yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Jakarta, Jumat (28/10/2011).

Menurut Agus, kepada masyarakat dan khususnya generasi muda, perlu ditanamkan kembali perasaan cinta terhadap bahasa indonesia. “Kalau kita malu jika penguasaan bahasa asing jelek, sudah seharusnya kita semua lebih malu lagi karena tidak menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar,” jelas Agus.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti, mengingatkan bahasa indonesia wajib dipakai dan dilestarikan.

Sebab, bahasa indonesia merupakan jati diri bangsa, kebanggan nasional, sarana pemersatu, dan sarana komunikasi. Pada puncak peringatan Bulan Bahasa 2011 tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menggelar berbagai lomba dan penilaiaan tentang penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar untuk perorangan maupun institusi.

Penghargaan diberikan pada 10 media massa cetak yang dinilai menggunakan bahasa indonesia yang baik. Selain itu, ada juga penghargaan untuk daerah yang penggunaan bahasa indonesianya baik. Daerah yang menjadi percontohan penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar adalah Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Sulawesi Tenggara.

Ada pula penghargaan kepada institusi atau perusahaan yang dinilai berkomitmen menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Penghargaan ini diberikan pada PT Angkasa Pura II, Hotel Borobudur Jakarta, dan PT Carefour Indonesia.

Penghargaan lainnya yang berskala nasional diberikan untuk kategori penulisan cerita pendek remaja, penulisan puisi siswa SD dan MI, lomba blog kebahasaan dan kesastraan, pemilihan duta bahasa 2011, lomba keterampilan berbahasa indonesia bagi peserta penutur asing, serta penulisan proposal penelitian kebahasaan, kesastraan, dan pengajaran bagi mahasiswa.

Pembelajaran Bahasa Indonesia Perlu Direposisi

JAKARTA, KOMPAS.com – Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah harus direposisi. Pasalnya, orientasi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah hanya untuk memenuhi target kurikulum, bukan memberdayakan kompetensi berbahasa siswa.

Orientasi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah hanya untuk memenuhi target kurikulum, bukan memberdayakan kompetensi berbahasa siswa.

Hasilnya, pembelajaran bahasa Indonesia tidak optimal, kurang variatif, dan terkesan monoton. Pembelajaran bahasa Indonesia tidak mendorong peningkatan keterampilan berbahasa siswa.

“Jika mau memakai ukuran hasil ujian nasional bahasa Indonesia SMP dan SMA, nilai rata-rata UN bahasa Indonesia beberapa tahun belakangan ini memprihatinkan. UN Bahasa Indonesia untuk SMP tahun ini saja terendah yakni 7,49 dari pelajaran Matematika dan IPA. Justru nilai rata-rata UN Bahasa Inggris yang teratas,” kata Syarifudin Yunus, Dosen bahasa dan sastra Universitas Indrtaprasta PGRI dalam penyelenggaraan Festival Bulan Bahasa II Universitas Indrtaprasta PGRI di Jakarta, Kamis (3/11/2011).

Menurut Syarifudin, hasil akhir pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah belakangan ini tidak sejalan dengan perjalanan panjang bahasa Indonesia dalam membuktikan eksistensinya. Bahasa Indonesia sudah dinobatkan selama 83 tahun sebagai identitas bangsa pada Sumpah pemuda 1928. Ada juga perangkat aturan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang berusia 39 tahun dan keberadaan Kamus besar Bahasa Indonesia yang sudah berusia 22 tahun.

Kenyataan ini memprihatinkan jika bahasa Indonesia tidak mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kata Syarifudin.

Syarifudin mengatakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru berperan dalam menyesuaikan materi ajar dengan kesempatan siswa untuk menerapkan praktik berbahasa dan pengembangan nalar tentang bahasa Indonesia.

“Pembelajaran bahasa Indonesia bukan untuk membuat siswa jadi ahli-ahli bahasa. Justru yang penting bagaimana membuat siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan keperluan dalam hidup. Siswa perlu lebih banyak ruang untuk membaca, mendengar, menuliskan, dan membicarakan pengetahuan dan pengalaman melalui bahasa Indonesia,” jelas Syarifudin.

Sumaryoto, Rektor Universitas Indrtaprasta PGRI, mengatakan bahasa Indonesia kian hari kian redup dan tertelan perkembangan jaman.

“Bahasa Indonesia semakin dianaktirikan yang juga berakibat pada ketidakpedulian. Apalagi sekarang, mulai marak sekolah dan perguruan tinggi yang menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar,” ujar Sumaryo.