BEBASKAN MAHASISWA UNTUK MEMILIH

Oleh : Alfian Arif Bintara

Mahasiswa FKIP UMSurabaya

             Apakah teman-teman tau jika pada tanggal 29 Desember 2010 ini akan diadakan PEMIRA alias Pemilihan Umum Raya? Jika ya, berarti wawasan teman-teman tentang kondisi kampus cukup bagus. Jika tidak, Tanya kenapa! Lho kenapa harus bertanya kepada kenapa? Ya harus, karena itu artinya sense of belonging teman-teman terhadap kampus sendiri cukup minim. Karena jika seorang mahasiswa cinta kampusnya, apa pun yang terjadi dengan kampusnya pasti akan tahu dan paham.

Lalu, bagaimana dan apa itu PEMIRA? Cukup banyak sebenarnya komentar miring tentang kampanye dan PEMIRA yang ada di kampus kita ini. Mulai dari komentar dosen soal berisiknya kampanye yang seringnya terjadi ketika perkuliahan berlangsung. Juga banyaknya yang menganggap kampanye dan PEMIRA yang berlangsung rutin tiap tahun ini merupakan hal yang tidak penting. Miris juga mendengar anggapan seperti itu. Kenapa juga hal semacam PEMIRA yang sah dan jelas-jelas tertera dalam undang-undang kekampusan dan juga jelas-jelas diakui oleh civitas akademika kampus kita ini dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak, termasuk dari mahasiswa sendiri.

Teman-teman, PEMIRA itu ialah bagian dari pembelajaran kita. PEMIRA itu ialah mata kuliah non sks. Meski sepertinya menghabiskan waktu hanya untuk berkampanye, berkeringat menjadi tim sukses dan bahkan hanya sekedar menyoblos, namun semua itu ialah hal-hal yang mesti juga dipelajari. Tidak ada pembelajaran tentang PEMIRA dan Student Government di kampus lain selain di kampus kita dan beberapa kampus yang juga menggunakan sistem SG lainnya. Jadi mengapa harus menganggap tidak penting? Karena PEMIRA ialah bagian dari pembelajaran demokrasi dan kemandirian mahasiswa dalam sebuah pemerintahan mini.

Dari sekian banyak jumlah mahasiswa, memang tidak semua kebagian dalam satu posisi. Maksudnya, tidak semua mahasiswa menjadi bagian dari partai, KPRU, PANWASRA, atau bahkan capres yang nantinya akan dipilih. Namun dan tentu pastinya ada mahasiswa yang mengambil bagian dalam posisi penyoblos sejati. Mahasiswa dengan posisi ini mengambil bagian porsi paling besar, meski ada juga mahasiswa apatis yang tidak mau tahu dengan kondisi ini. Dan terlepas dari itu, semua posisi ini memegang peranan penting dalam keberlangsungan PEMIRA. Dan semua mempunyai manfaat dan tujuan yang sama yakni terjadinya perubahan kampus ke arah yang lebih baik.

             Ya, itulah sebenarnya tujuan PEMIRA, menuju perubahan yang lebih baik. Mungkin sebagian dari kita tidak begitu suka aktif dalam kepartaian mahasiswa, ikut menjadi tim KPRU, PANWASRA atau tidak mau menjadi capres dan cawapres. Tapi kita masih bisa menunjukkan kepedulian kita untuk kampus tercinta dengan cara ikut menyoblos pada saat pemilihan yang berlangsung 29 Desember 2010 nanti. Karena satu suara dari kita sangat berpengaruh. Dan pilihan yang kita ajukan pun sama bobotnya dengan perubahan yang kita suarakan.

             PEMIRA atau Pemilihan Raya, merupakan ajang demokrasi di kalangan sivitas akademika UMSurabaya. Didalamnya ada beberapa kandidat yang bersaing merebut tampu kekuasaan eksekutif mahasiswa UMSurabaya. Di dalamnya juga  ditanamkan nilai-nilai demokrasi yang menjurus pada persaingan sehat antara kandidat-kandidat BEM U. para kandidat dibiarkan berekspresi dengan gayanya sendiri demi menjaring para pemilihnya untuk kemenangan yang dapat mengantarkan kandidat tersebut menjadi ketua BEM.

             Ketua BEM merupakan “presiden” kampus, karena seperti diketahui, kampus merupakan sarana melatih diri hidup bernegara di Indonesia. Di dalam kampus ada berbagai elemen yang merepresentasikan kehidupan bernegara yang sesungguhnya. Tak heran bila badan eksekutifpun ada di dalam kampus, dan badan tersebut diwakili oleh BEM, maka dapat disimpulkan bahwa ketua BEM merupakan presiden kampus. Dan karena berpredikat sebagai “presiden kampus” maka tak heran, ketua bEM banyak diincar mahasiswa yang ingin eksis di kampusnya ,terlebih menjadi ketua BEM maka akan mendapat “fasilitas” dan berbagai “kemudahan” di dalam maupun di luar kampus. Tapi, jika kampus merupakan cerminan kecil dari bernegara maka apakah segala “kebejatan” bangsa ini juga tercermin dalam kampus khususnya dalam hal PEMIRA UMSurabaya? yang seperti kita ketahui dalam kehidupan nyata bernegara banyak parpol yang merakukan kecurangan-kecurangan demi kemenangannya. Hmm… untuk menjawab pertanyaa ini memang agak susah dan “terasa menakutkan”, karena dalam debat Capresma dan Cawapresma masih saja banyak kecurangan yang dilakukan calon-calonnya diantaranya pembodohan mahasiswa dengan cara menghasut dan menginterfrensi para DOSEN untuk memilih dirinya dan menjatuhkan calon-calon lawannya, kalau sampai seperti ini apa bedanya MAHASISWA dengan WAYANG GOLEK yang dikendalikan oleh dosennya untuk bergerak sesuai perintah DALANGnya sebenarnya dalam pesta demokrasi mahasiswa para Dosen jangan sampai ikut campur masalah ini sampai-sampai ada yang mengancam tidak akan mengeluarkan NILAI UAS kalau TIDAK MEMILIH calon TERTENTU, sebenarnya di sini dosen juga harus ikut andil di dalam PEMIRA namun harus tetap pada batasan tertentu, maksudnya para dosen berhak dalam mengawasi berjalannya PEMIRA agar tetap berada koridor yang benar dan bukan sebagai DALANG dalam Perwayangan Kampus. Lantas apa bedanya dengan PENJAJAHAN gaya baru???? yang di dalam praktiknya mengekang Hak Mahasiswa (HM) untuk menentukan calon pilihannya yang dianggap mampu untuk membawa perubahan di Kampusnya dikendalikan dan dibatasi oleh dosenya????. BEBASKAN MAHASISWA UNTUK MEMILIH

Masuknya kampanye pemilihan calon PRESMA dan WAPRESMA BEM U menjadi tugas mata kuliah sungguh sangat tidak etis. Bukan masalah siapa yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan, tapi proses bersih tidaknya pemilihan ini yang harus dilihat. Pemilu bukan menjadi ajang perebutan massa, dan bukan sebagai ajang pembohongan publik. Pemilu adalah sebagai wahana demokratisasi pemilih untuk memilih siapa pemimpinnya, dan sebagai media pencerdasan mahasiswa. Dalam hal ini khususnya masyarakat kampus.

Jadi, biarkanlah pemilih menentukan pilihannya sendiri , dan kunci agar kita benar-benar mampu melepaskan diri dari penjajahan adalah melepaskan diri dari sistem kapitalis di segala bidang dan TETAP pada PENDIRIAN kita dan jangan takut untuk membawa PERUBAHAN di kampus kita. Bukan hal yang gampang memang. Perlu upaya serius dan sinergis antara individu mahasiswa, Dosen dan kampus yang memahami visi kemerdekaan.

Apa yang sudah kita lakukan, kawan-kawan? Semoga tidak lagi asyik memikirkan lomba balap karung saja. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk berjuang melepaskan diri dari keterjajahan ini. Mari bangkitkan pemikiran dan perasaan, berinteraksi tanpa kekerasan, bulatkan tekad untuk memajukan kampus tercinta kita. Kita terasa kecil kalau sendiri, maka bersama-sama tentu akan lebih baik.

HIDUP MAHASISWA!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: