ANALISIS FOLKLOR LISAN JAWA: “MANTRA AJI PENGASIHAN JAKA BURBA”

KATA PENGANTAR

 

        Laporan penelitian ini berjudul Folklor Lisan: Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba. Penelitian ini diadakan di Desa Banyuurib Kecamatan Ujungpangkah Gresik. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, peneliti mengucapkan terima kasih kepada Dosen Matakuliah Filologi Dra. Sujinah, M.Pd. Yang telah memberikan banyak referensi dan masukkan sehingga laporan hasil penelitian ini bisa disusun. Mudah-mudahan hasil penelitian ini dapat memberi pemahaman baru menyangkut perbedaan kultur yang keuniversalan nilai-nilai kemanusiaannya masih tampak dan berkembang sampai saat ini.

Surabaya, 5 Mei 2011

Peneliti

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.                                  

DAFTAR ISI

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penelitian

1.4 Metode Penelitian

 

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba

2.1.1 Analisis Struktur Aji Pengasihan Jaka Burba

2.1.1.1 Formula Sintaksis

2.1.1.2 Formula Bunyi

2.1.1.3 Diksi

2.1.2 Konteks Penuturan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba

2.1.2.1 Penembang

2.1.2.2 Target

2.1.2.3 Interaksi antara Penembang dengan Target.

2.1.2.4 Waktu.

2.1.2.5 Tempat

2.1.2.6 Jarak

2.1.3 Proses Penciptaan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba

2.1.4 Fungsi Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN                                                                                                                

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

 

Ilmu pelet dan ilmu pengasihan adalah salah satu cabang ilmu gaib yang khusus berfungsi untuk mempengaruhi alam bawah sadar seseorang agar tertanam rasa cinta atau sayang yang dalam kepada orang yang mengirim pelet/pengasihan tersebut. Di tanah jawa, ilmu pelet dan pengasihan telah ada sejak jaman jawa kuno. Bahkan mungkin sama kunonya dengan nenek moyang orang jawa. Tidak ada keterangan yang reliable mengenai siapa yang mengenalkan ilmu pelet pertama kali, kapan dan di dimana itu terjadi. Menurut pengamatan atas berbagai kitab kuno, ilmu pelet dan pengasihan seperti aliran mistik lainnya berkembang seiring dengan perkembangan bahasa dan budaya. Berubahnya tatanan budaya dan bahasa juga mengubah tatacara ritual dan bahasa mantra yang digunakan ilmu pelet.

Ajian ajian pelet dikenal hampir ada disemua budaya nusantara ini, di Belitong disebut “kemat”. Di daerah jawa apalagi banyak sekali nama ajian ajian tersebut  misalnya: semar mendem, puter giling, aji kencono wungu, jaran goyang, aji sukma sejati dan bermacam jenis nama pelet dengan disertai laku yang berbeda beda juga serta syarat syarat tertentu yang harus dijalankan ketika menjalankan atau mengamalkan ilmu tersebut.

Pelet itu berasal dari nama seorang tokoh legendaris, ialah Nini Pelet dari gunung Ciremai Cirebon, dan Mbah Buyut Pelet dari Pajajaran. spirit dari Nini Pelet / Nyi Pelet ialah Djinn Quraesin  dari Rawa Onom Banjar Parahyangan zaman Prabu Selang Kuning sebagian berpendapat dewi quraesin ini bukan dari rawa onom banjarpataruman tapi bertempat di kaki gunung ciremai salah satu panglima ratu jin nyi endang sukaesih carancang kancana putra dalem arya wiratanu/jaya sasana cikundul. Dewi Quraesin dan Nyi Pelet itu dapat dikalahkan keilmuannya oleh Ki Buyut Mangun Tapa dari Cirebon keturunan Mbah Kuwu Cakrabuana dan Kitab Ilmu Pelet Dewi Quraesin dapat direbut oleh Ki Buyut dan dipelajari juga disempurnakan dengan keilmuan hikmah sehingga Ilmu Pelet Jaran Goyang sekarang terbagi menjadi 2 silsilah dan khodam ada yang berasal dari siluman Ular Dewi Quraesin ada yang berasal dari khodam Ki Buyut Mangun Tapa.

Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba merupakan salah satu bentuk tradisi lisan (mantra jawa) dan masuk pada wilayah folklor. Istilah folklor di Indonesia pertama kali dikemukakkan oleh James Danandjaja, definisinya adalah sebagai berikut:

“Folklor yaitu sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device)” (Danandjaja, 1997:2). Pendapat Rusyana (1978:1) folklor adalah merupakan bagian dari persendian cerita yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat.

           Folklor pada masyarakat Jawa, sama dengan folklor dengan daerah lain, yaitu terbagi menjadi folklor lisan (verbal folklore), folklor setengah lisan (partly folklore) folklor bukan lisan (nonverbal folklore).

           Mantra Aji Pengahsihan Jaka Burba termasuk ke dalam folklor lisan. Menurut pendapat rusyana (1976) foklor lisan atau sastra lisan mempunyai kemungkinan untuk berperanan sebagai kekayaan budaya khususnya kekayaan sastra; sebagai modal apresiasi sastra sebab sastra lisan telah membimbing anggota masyarakat ke arah apresiasi dan pemahaman gagasan dan peristiwa puitik berdasarkan praktek yang telah menjadi tradisi selama berabad-abad; sebagai dasar komunikasi antara pencipta dan masyarakat dalam arti ciptaan yang berdasarkan sastra lisan akan lebih mudah digauli sebab ada unsurnya yang sudah dikenal oleh masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

Analisis Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba. Di Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, merumuskan beberapa masalah, diantaranya:

(1) Bagaimanakah struktur teks Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba?,

(2) Bagaimanakah konteks penuturan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba?,

(3) Bagaimana proses penciptaan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba?,

(4) Bagaimanakah fungsi dari Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba?.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan lain yang ingin dicapai melalui penelitian ini di antaranya:

(1) Mengetahui struktur teks dari Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba,

(2) Mengetahui proses penciptaan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba,

(3) Mengetahui konteks penuturan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba,

(4) Mengetahui fungsi dari Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba.

1.4 Metode Penelitian

Langkah-langakah kerja dalam mengungkap unsur-unsur struktur dan nilai-nilai yang terkandung di dalam Mantra Aji pengasihan Jaka Burba digunakan metode “deskriptif analitik” dengan teknik pengumpulan data wawancara. Wawancara digunakan maksudnya untuk mencari data teks Mantra Aji pengasihan Jaka Burba dan hal-hal apa saja yang berkaitan dengan Mantra Aji pengasihan Jaka Burba.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba

Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba adalah salah satu bagian dari mantra (aji-ajian) masyarakat Jawa yang dipergunakan untuk memikat seseorang. Apalagi bila orang yang diincar itu pernah menghina orang yang akan memikatnya. Dengan mudah orang yang akan memikat target dapat menundukkan keangkuhan objek tersebut, sebab aji Jaka Burba akan lebih mudah merasuki jiwa objek tersebut. Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba dilakukan oleh seseorang yang ahli dalam menembangkannya atau disebut juga juru pelet.

Teks yang dianalisis merupakan teks Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba yang diperoleh dari sebuah Juru pelet kecamatan Ujungpangkah, Gresik. Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba yang dianalisis, yaitu Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba tradisi jawa kuno. Mantra Aji pengasihan Jaka Burba tersebut menggunakan bahasa Jawa. Analisis ini akan mengacu pada struktur, konteks penuturan, proses penciptaan dan fungsi.

2.1.1 Analisis Struktur Aji Pengasihan Jaka Burba

Analisis struktur teks akan meliputi analisis: formula sintaksis, formula bunyi, dan diksi. Berikut teks Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba:

Teks asli: Teks terjemahan:

(1) Bismilah: Dengan Menyebut nama Allah

(2) Niat ingsun mutih sejatine eling sira: Niat saya puasa sejatinya ingat kamu

(3) Layang-layang sukma dadiya rewang: Bayang-bayang hati jadilah teman

(4) Jaka Burba sira tangiya: Jejaka tangguh kamu bangunlah

(5) Duweya iman sing sarenga: Punyailah iman yang kuat

(6) Lumumpata kayu mati: Keluarlah kayu mati

(7) ndelika marang kayu badati: Bersembunyilah pada kayu keras

(8) Tak pecutake sira kudu katut: Kucambuk kamu harus ikut(nurut)

(9) Tak seblaake marang jabange…..(sebut jenenge): Kupukul kepada……(sebut namanya)

(10) Nurut marang ingsun: Menurut pada saya

(11) Ingsun pandeng ngleleng: Saya lihat dengan tajam

(12) Ingsun tinggal kangen: Saya tinggal rindu

(13) Ingsun cedhaki dhemen: Saya dekati suka.

 

2.1.1.1 Formula Sintaksis

Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba mempunyai 13 larik. Dari keseluruhan larik, penulis hanya akan menganalisis larik 11, 12 dan 13 yang merupakan bagian penutup dari teks Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba. Pertama-tama penulis akan menganalisis pada tataran formula sintaksis, terutama untuk lebih mengangkat aspek fungsi, kategori dan peran komponen-komponen Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba tersebut.

Pada kalimat pertama merupakan bagian pembuka dari teks puisi sawer panganten, kalimatnya dibentuk dengan konstruksi S + P + O yaitu terdapat pada larik pertama / Ingsun pandeng ngleleng /. Pada larik ini terdiri atas tiga kata dan enam suku kata. Kata Ingsun menempati sebagai fungsi subjek yang berkategori kata benda (nomina) dan mempunyai peran sebagai pelaku. Selanjutnya kata Pandeng menempati sebagai fungsi predikat yang berkategori kata kerja (verbal) dan mempunyai peran sebagai perbuatan. Sedangkan kata ngleleng yang menempati sebagai fungsi objek yang berkategori kata benda (nomina) dan mempunyai peran sebagai penjelas. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut:

Tabel 2.1.1

 

Analisis Sintaksis

Ingsun

pandeng

ngleleng

Fungsi

S

P

O

Kategori

Nomina

Verba

Nomina

Peran

Pelaku

Perbuatan

Penjelas

Pada kalimat ke duabelas kalimatnya dibentuk dengan konstruksi S + P + O yaitu terdapat pada larik keenam / Ingsun tinggal kangen /. Pada larik ini terdiri atas tiga kata dan enam suku kata. Kata Ingsun menempati sebagai fungsi subjek yang berkategori kata benda (nomina) dan mempunyai peran sebagai penderita. Selanjutnya kata tinggal menempati sebagai fungsi predikat yang berkategori kata kerja (verbal) dan mempunyai peran sebagai perbuatan. Sedangkan kata kangen menempati sebagai fungsi objek yang berkategori kata benda (nomina) dan mempunyai peran sebagai penjelas. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut:

Tabel 2.1.2

 

Analisis Sintaksis

Ingsun

tinggal

kangen

 

Fungsi

S

P

O

Kategori

Nomina

Verba

Nomina

Peran

Pelaku

Perbuatan

Penjelas

Pada kalimat ke tigabelas merupakan bagian penutup dari teks Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba, kalimatnya dibentuk dengan konstruksi S + P+ O yaitu terdapat pada larik ke tigabelas / Ingsun Cedhaki dhemen /. Pada larik ini terdiri atas tiga kata dan tujuh suku kata. Kata Ingsun menempati sebagai fungsi subjek yang berkategori kata benda (nomina) dan mempunyai peran sebagai pelaku. Selanjutnya kata Cedhaki menempati sebagai fungsi predikat yang berkategori kata kerja (verbal) dan mempunyai peran sebagai perbuatan. Sedangkan kata dhemen menempati sebagai fungsi objek yang berkategori kata benda (nomina) dan mempunyai peran sebagai penjelas. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut:

Tabel 2.1.3

 

Analisis Sintaksis

Ingsun

Cedhaki

Dhemen

 

Fungsi

S

P

O

Kategori

Nomina

Verba

Nomina

Peran

Pelaku

Perbuatan

Penjelas/Pelengkap

Secara umum dalamMantra Aji, bagian pembuka (larik ke-1) /Bismillah ngawitan ngidung/ bermakna tentang permohonan ijin. Secara implisit juga mengajarkan tentang ajaran tauhid yaitu ke-Esaan Allah. Kata Bismillah adalah ungkapan yang digunakan penembang sebagai ciri bahwa dia akan memulai suatu kegiatan yang bernilai baik, maksudnya yaitu hendak membuka dan memulai sawer. Hal ini sesuai dengan kebiasaan kita pada umumnya ketika hendak melakukan suatu kegiatan.

Bagian isi (larik ke-6) /Hidep nalikeun duriat/ merupakan salah satu ajaran Islam mengenai perintah untuk melaksanakan ibadah nikah yang ditujukan bagi kedua pengantin, merupakan ajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadist. Sebuah hadist yang membicarakan pernikahan yang merupakan salah satu cara untuk menyempurnakan agama.

Bagian penutup (larik ke-19) /Mugi Gusti nangtayungan/ berisi penguatan sugesti dari larik-larik sebelumnya dan simpulan dari isi yang disajikan. Bagian ini merupakan suatu permohonan/doa penutup yang ditujukan untuk kedua pengantin agar selalu ada dalam lindungan Allah.

2.1.1.2 Formula Bunyi

Pembahasan mengenai bunyi meliputi pembahasan asonansi dan aliterasi berserta efek yang ditimbulkannya pada teks. (Pradopo, 2002:31). Dibawah ini dicantumkan bentuk-bentuk bunyi vokal dan bunyi konsonan yang terdapat pada larik ke 1, 6, dan 19 teks puisi sawer panganten.

Tabel 2.1.4

Larik

Bunyi Vokal

Bunyi Konsonan

11

a/i/u/e

Ng/s/p/d/g/l

12

a/i/u/e

Ng/s/n/t/g/l/k

13

a/i/u/e

Ng/s/n/c/dh/k/m

2.1.1.3 Diksi

Pilihan kata dalam Mantra disebut diksi, kemampuan memilih kata merupakan syarat utama bagi juru pelet dalam menyusun mantra. Proses memilih kata pada mantra lisan, prosesnya berlangsung dengan cepat dan tidak dapat diulang. Kata-kata yang dipilih ada yang bermakna denotasi yaitu arti secara harfiah, konotasi adalah asosiasi pikiran yang dapat menimbulkan nilai rasa, namun kebanyakan bermakna denotasi.

Bahasa yang digunakan dalam mantra Aji Pengasihan Jaka Burba ini merupakan teks bahasa Jawa yang bisa diketegorikan sebagai bahasa yang bersifat puitis. Artinya, bahasanya merupakan bahasa yang digunakan dalam karya sastra, khususnya kidung jawa. Karena itu cukup sulit untuk memahaminya hanya dengan sekali mendengarkan. Seperti pada kalimat Lumumpata kayu mati (Keluarlah kayu mati).

2.1.2 Konteks Penuturan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba

2.1.2.1 Penembang

Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba ditembangkan oleh seorang penembang (laki-laki/perempuan yang telah mendapatkan wangsit) atau disebut juga dengan juru pelet. Jumlah penembang dalam suatu ritual cukup satu penembang saja. Dalam acara tersebut penembang melakukan amalan-amalan yang harus dilaksanakan sebelum menembangkan matra itu.

2.1.2.2 Target

Target yang dituju adalah lawan jenisnya sehingga terpengaruh oleh aji ini biasanya akan langsung jatuh cinta dan akrab pada penembang yang awalnya dibenci.

 

2.1.2.3 Interaksi antara Penembang dengan Target

Interaksi yang terjadi antara penembang dengan target dalam penembangan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba, yaitu adanya salah satu ungkapan yang diutarakan oleh penutur/penembang kepada target namun targetnya dikendalikan dari jarak jauh dalam artian penembang dan target tidak langsung berhadapan langsung. Namun, bagi seorang target yang pikirannya sedang tidak kosong atau bersikap baik pada penembang maka tidak mudah untuk terpengaruh dengan mantra dan ritual yang dilakukan penembang, kejadian ini akan dijadikan sebuah tantangan. Tantangan yang harus dilayani dengan mencari cara bagaimana supaya target mengosongkan pikirannya. Salah satu cara yang dilakukan penembang yaitu menunggu saat hari tu target mengalami kegundahan sehingga target banyak pikiran dan akhirnya berujung pada melamun.

2.1.2.4 Waktu

Waktu pembacaan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba biasanya dilaksanakan malam hari menjelang tidur. Untuk waktu tersebut, sangat bergantung pada jam tidur penembang.

Lamanya waktu tidak dapat ditentukan dengan pasti karena tergantung kehusyukan penembang dalam membawakannya. Namun, biasanya ritual ini selesai dengan waktu lima menit

2.1.2.5 Tempat

Tempat menembangkan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba dilakukan di dalam kamar penembang yang telah disediakan kembang setaman. Pada acara tersebut, penembang harus berwudhu dan berada di tempat yang sunyi dengan duduk bersila sambil menghadap kiblat

Pada saat itu, penembang membacakan mantra sambil membayangkan dan menyebu nama target. Ritual ini tentunya juga harus di dahului dengan puasa selama 7 hari 7 malam.

2.1.2.6 Jarak

Jarak antara penembang, dengan target tidak dibatasi. Serbab dari jarak tersebut, terjadi kesan seakan penembang dan target saling tidak akrab, hal ini yang akan memungkinkan semakin manjurnya mantra tersebut.

2.1.3 Proses Penciptaan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba

Cara penyampaian Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba dilakukan secara langsung. Dengan cara, seorang penembang melagukan atau menembangkan mantra tersebut.

Secara keseluruhan, tembang yang Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba diciptakan oleh pencipta berisi tentang ajaran Agama. Ajaran yang disampaikan bertemakan, solidaritas dan keakraban, menguraikan tentang suatu hadist/wahyu. Dalam proses penciptaan, untuk menyesuaikan dengan tujuan awal Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba, seorang pencipta setidaknya mengetahui atau menguasai ilmu agama Islam.

Penciptaan dilakukan dalam dua kemungkinan, yaitu:

1. Terjadi secara spontan,

2. Dilakukan dengan cara ditulis terlebih dahulu

Kemungkinan yang pertama, pada situasi spontan, secara mendadak seorang tidak sisukai orang tertentu sehingga timbul rasa ingin menaklukkannya. Teks yang dipakai ada dua kemungkinan, teks yang telah ada dalam ingatan penembang (teks turunan pada umumnya) hasil ciptaan dari leluhur ahli dan teks baru yang terjadi secara spontan atau di kutip dari salah satu ayat suci Alquran.

Kemungkinan yang kedua, yaitu penciptaan dengan terlebih dahulu ditulis. Hal tersebut terjadi dalam situasi penembang bingung apa yang ahrus dibaca ketika menghadapi targetnya sehingga penembang mengutip dari kalmia-kalimat arab yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Jawa.

Dalam puisi Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba, seorang pencipta pasti beliau juga merupakan penembang. Tetapi, seorang penembang belum tentu dia menciptakan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba. Karena mungkin saja seorang hanya mampu menembangkan tanpa bisa menciptakan.

2.1.4 Fungsi Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba

Mempengaruhi alam bawah sadar seseorang agar tertanam rasa cinta atau sayang yang dalam kepada orang yang mengirim pelet/pengasihan tersebut dan mencegah putusnya tali silahturahmi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hasil dari analisis dalam penelitian ini, diperoleh kesimpulan mengenai masalah yang telah dirumuskan. Sebagai berikut:

1. Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba adalah salah satu bagian dari mantra (aji-ajian) masyarakat Jawa yang dipergunakan untuk memikat seseorang. Apalagi bila orang yang diincar itu pernah menghina orang yang akan memikatnya.

2. Struktur dari Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba mempunyai 13 larik. Secara umum dalam Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba, bagian pembuka tentang permohonan ijin. Secara implisit juga mengajarkan tentang ajaran tauhid yaitu ke-Esaan Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan Terjemahan. Bandung: Dipenogoro

Badrun, Ahmad. 2003. Patu Mbojo. Struktur, Konteks Pertunjukan, Proses Penciptaan, dan Fungsi. Jakarta: UI

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rieka Cipta

Danandjaja, James. 2002. Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain. Jakarta: Graffiti

LAMPIRAN I

 

1. Identitas Penutur

Nama : Yai Dul Kipli

Umur : 78 tahun

Alamat : Dusun Kaklak desa Banyuurib kecamatan Ujungpangkah, Gresik

Pendidikan : Sekolah Dasar (SD)

Pekerjaan : Kusir Delman

Waktu Perekaman : Sabtu, 30 April 2011. Pukul: 10.00 WIB

2. Transkripsi Teks

Bismilah…….
Niat ingsun mutih sejatine eling sira
Layang-layang sukma dadiya rewang
Jaka Burba sira tangiya
Duweya iman sing sarengat
Lumumpata kayu mati, ndelika marang kayu badati
Tak pecutake sira kudu katut
Tak seblaake marang jabange…..(sebut namanya)
Nurut marang ingsun, ingsun pandeng ngleleng
Ingsun tinggal kangen
Ingsun Cedhaki dhemen….

3. Terjemahan

 

Dengan Menyebut nama Allah

Niat saya puasa sejatinya ingat kamu

Bayang-bayang hati jadilah teman

Jejaka tangguh kamu bangunlah

Punyailah iman yang kuat

Keluarlah kayu mati

Bersembunyilah pada kayu keras

Kucambuk kamu harus ikut(nurut)

Kupukul kepada……(sebut namanya)

Menurut pada saya

Saya lihat dengan tajam

Saya tinggal rindu

Saya dekati suka.

 

4. Biodata Penulis

Nama : Alfian Arif Bintara

Tempat dan Tgl. Lahir : Surabaya, 02 Agustus 1991

Agama : Islam

Alamat : Dukuh Bulak Banteng Gang. Pratama, Surabaya

Telepon : 085646111343

Email : alfian_74@yahoo.com

LAMPIRAN II

Pendokumentasian Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba

 

1. Deskripsi Mantra:

Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba adalah salah satu bagian dari mantra (aji-ajian) masyarakat Jawa yang dipergunakan untuk memikat seseorang. Apalagi bila orang yang diincar itu pernah menghina orang yang akan memikatnya. Dengan mudah orang yang akan memikat target dapat menundukkan keangkuhan objek tersebut, sebab aji Jaka Burba akan lebih mudah merasuki jiwa objek tersebut. Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba dilakukan oleh seseorang yang ahli dalam menembangkannya atau disebut juga juru pelet. Adapun bunyi mantranya sebagai berikut:

Bismilah…….

Niat ingsun mutih sejatine eling sira
Layang-layang sukma dadiya rewang
Jaka Burba sira tangiya
Duweya iman sing sarengat
Lumumpata kayu mati, ndelika marang kayu badati
Tak pecutake sira kudu katut
Tak seblaake marang jabange…..(sebut namanya)
Nurut marang ingsun, ingsun pandeng ngleleng
Ingsun tinggal kangen
Ingsun Cedhaki dhemen….

 

2. Arti Sempit:

Dengan Menyebut nama Allah

Niat saya puasa sejatinya ingat kamu

Bayang-bayang hati jadilah teman

Jejaka tangguh kamu bangunlah

Punyailah iman yang kuat

Keluarlah            kayu            mati

Bersembunyilah pada kayu keras

Kucambuk kamu harus ikut(nurut)

Kupukul kepada……(sebut namanya)

Menurut pada saya

Saya lihat dengan tajam

Saya tinggal rindu

Saya dekati suka.

 

 

3. Arti Luas:

 Bismilah: Dengan Menyebut nama Allah. Maksudnya adalah mandikanlah batinmu dengan menyebut nama Allah. Membersihkan batin dulu sebelum memulai aktivitasmu. Sebab lebih mudah membersihkan badan dibandingkan membersihkan batin atau jiwa. Dalam lagu Indonesia Raya juga mendahulukan jiwa lebih dulu : Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya …

 Niat ingsun mutih sejatine eling sira: Niat saya puasa sejatinya ingat kamu, maksudnya hatinya senantiasa berdzikir kepada Allah, diwaktu senang apalagi susah, dikala menerima nikmat maupun musibah, sebab setiap persitiwa yang dialami manusia, pasti mengandung hikmah.

 

 Layang-layang sukma dadiya rewang: Bayang-bayang hati jadilah teman. Menyadari betapa besarnya anugerah dan jasa yang telah diperoleh manusia dan betapa bijaksana Allah dalam segala ketetapan dan pekerjaan-Nya.

 

Jaka Burba sira tangiya: Jejaka tangguh kamu bangunlah. Kesadaran ini dapat mendorong seorang hamba untuk beribadah kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diterima. Manusia sendirilah yang akan memperoleh manfaat ibadah yang dilakukannya.

 

 Duweya iman sing sarenga: Punyailah iman yang kuat. Mandilah, bersucilah, kemudian kerjakanlah shalat. Allah menciptakan Jin dan manusia tidak lain adalah agar supaya menyembah, menghambakan diri kepada-Nya. Menyadari betapa besarnya anugerah dan jasa yang telah diperoleh manusia dan betapa bijaksana Allah dalam segala ketetapan dan pekerjaan-Nya

 

Lumumpata kayu mati: Keluarlah kayu mati. Walau ketika hidup sebagai raja diraja tapi ketika mati tidak ada yang dibawa. Ketika masih hidup supaya berkarya, giat berusaha.

 

ndelika marang kayu badati: Bersembunyilah pada kayu keras. yang sholat akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Allah, Tuhan kita. Kalau Allah sudah melindungi, tak ada satupun di dunia ini yang kuasa menyakiti kita. tak satupun.

 

 

 

Tak pecutake sira kudu katut           : Kucambuk kamu harus ikut(nurut). Maksudnya kita hidup di dunia ini atas ijin Allah maka kita harus patuh terhadap perintahNya.

Tak seblaake marang jabange…..(sebut jenenge): Kupukul kepada……(sebut namanya). Maksudnya atas ijin dari Allah maka segala sesuatu akan terwujud.

Nurut marang ingsun: Menurut pada saya. Maksudnya Berkat pertolongan dari Allah maka segala sesuatu pasti terjadi, jadi tetap patuhilah perintahNya.

 

 Ingsun pandeng ngleleng: Saya lihat dengan tajam. Semua yang terjadi di dunia ini takkan lepas dari pandangan Allah.

 

 Ingsun tinggal kangen: Saya tinggal rindu. Maksudnya ketika manusia berada dalam kebingungan maka ingatlah Allah.

 

 Ingsun cedhaki dhemen: Saya dekati suka. Maksudnya adalah jodoh itu sudah ditakdirkan oleh Allah.

 

 

 

4. Fungsi:

Mempengaruhi alam bawah sadar seseorang agar tertanam rasa cinta atau sayang yang dalam kepada orang yang mengirim pelet/pengasihan tersebut dan mencegah putusnya tali silahturahmi.

 

5. Laku:

Waktu pembacaan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba biasanya dilaksanakan malam hari menjelang tidur. Untuk waktu tersebut, sangat bergantung pada jam tidur penembang.

Lamanya waktu tidak dapat ditentukan dengan pasti karena tergantung kehusyukan penembang dalam membawakannya. Namun, biasanya ritual ini selesai dengan waktu lima menit

Tempat menembangkan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba dilakukan di dalam kamar penembang yang telah disediakan kembang setaman. Pada acara tersebut, penembang harus berwudhu dan berada di tempat yang sunyi dengan duduk bersila sambil menghadap kiblat

Pada saat itu, penembang membacakan mantra sambil membayangkan dan menyebu nama target. Ritual ini tentunya juga harus di dahului dengan puasa selama 7 hari 7 malam.

 

6. Cara Penggunaan:

Interaksi yang terjadi antara penembang dengan target dalam penembangan Mantra Aji Pengasihan Jaka Burba, yaitu adanya salah satu ungkapan yang diutarakan oleh penutur/penembang kepada target namun targetnya dikendalikan dari jarak jauh dalam artian penembang dan target tidak langsung berhadapan langsung. Namun, bagi seorang target yang pikirannya sedang tidak kosong atau bersikap baik pada penembang maka tidak mudah untuk terpengaruh dengan mantra dan ritual yang dilakukan penembang, kejadian ini akan dijadikan sebuah tantangan. Tantangan yang harus dilayani dengan mencari cara bagaimana supaya target mengosongkan pikirannya. Salah satu cara yang dilakukan penembang yaitu menunggu saat hari tu target mengalami kegundahan sehingga target banyak pikiran dan akhirnya berujung pada melamun.

 

7. Pantangan:

1) Penembang dilarang menemui target selama melakukan ritual

2) Penembang harus berpuasa selama 7 hari 7 malam.

3) Tidak boleh menghentikan/tidak menjalankan salah satu ritual di dalam pelaksanaan ritual.

2 Responses to ANALISIS FOLKLOR LISAN JAWA: “MANTRA AJI PENGASIHAN JAKA BURBA”

  1. ade mengatakan:

    hmm, tuisan yang membantu.thank’s …………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: