“Sekretarisku Pujaan Hatiku”

Oleh: Alfian Arif. B

Beberapa waktu terkhir ini aku trbayang olehnya. Entah mengapa aku selalu memikirkannya. Pagi itu dai saat sang fajar menorehkan senyum pada dunia, kutatap wajah seorang perempuan, yang mondar-mandir di ruang kerjaku. Saat itu ia melangkah di depanku sambil tersenyum manis padaku, namun karna senyumannyalah kini konsentrasiku untuk membuat suatu rancangan program kerja organisasi yang sedang aku pimpin saat ini malah terganggu. Tekadang aku sampai tertawa sendiri jikalau membayangkan diriku yang bersikap gugup ketika berhadapan dengannya.

Wiji, Perempuan yang slama ini membantu sekaligus menjadi patner dalam organisasi yang sedang aku pimpin saat ini. Entah aku gila atau sekedar terlena oleh senyumannya yang selalu mengambang dan sumringah di depanku. Aku adar ternyata ceritaku seperti yang sering kulihat di sinetron-sinetron percintaan.

“Ekmmmm,, ji, ngapain she kamu kok mondar-mandir di depanku??” Tanya sekaligus sapaku padanya.

“Apaan sih nam, suka-suka aku donk mau ngapain aja!!!” seperti biasa ia selalu ketus padaku.

“Ya daripada kamu mondar-mandir gak jelas mending bantuin aku bikin proposal kegiatan buat besok” pintaku.

“Ekhmm…gimana yak!!!, Boleh dech, tapi gak gratis loh ya!!!.” Sambil tersenyum manja dia menghampiriku dan menggantikan posisiku di depan komputer yang ada di ruang kesekretariatan kami.

               Sekejap hatiku seakan dag, di, dug. Entah apa yang sedang aku fikirkan, keringat-keringat dinginkuku pun tiba-tiba keluar mengucur dari sela-sela pori-poriku yang terkatup oleh dinginnya AC diruangan itu. Padahal ruangan yang kami tempati saat itu terasa dingin oleh sejuknya AC.

              “Eh, nam kamu kenapa sich???, kamu sakit ya??, di ruangan sedingin ini kok kamu bermandikan keringat seperti ini sich???”. Kata-kata yang keluar dari bibir tipisnya semakin membuatku gugup sehingga kerinagatku pun semakin deras mengucur.

              “Ahhh, anu enggak kok!! Ini aku tadi habis minum obat demam, makanya aku langsung keringatan seperti ini.” Sahutku sambil menggaruk-garuk kepalaku, karena aku bingung harus mencari alas an apa untuk menimpali perkataannya.

              “Hallah gak usah ngeles dech kamu nam, bilang aja kamu grogi kan ketika aku ada di dekatmu???, yak an….ya kan nam hahahahahah???”. Ledeknya padaku. Seketika jantungku seakan seperti tersambatr petir ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.

              “Waduuuuh, Nggak lah!!!! Yeee, ke GR-an Mat sih kamu ji!!!. Sambil tergagap kucoba mengimbangi perkataanya.

“Udah Nich, tugasku udah selesaiiiiiiiii, kamu tinggal bikin latar belakang, tujuan kegiatan, dan sasaran kegiatan saja”

“lho kok…Cuma bikin covernya aja sich ji??? Kalau begini sih aku bias sendiri!!!” sambil terheran-heran ku tanya dia seperti itu.

Aku heran pada perempuan yang satu ini terkadang dia nyebelin, tapi di sisi lain dia bagai sang pencerah langkahku yang slalu setia menemani langkahku.

“Udah dech jangan banyak komentar, besok aja lagi ya!!! Kita lanjitin lagi, karena aku harus nganter mamak ku ambil baju di penjahit” pamitnya padaku sambil tersenyum padaku.

“Tapi,,,,,,”

“Sttttttt uadah gak uash brisik”. Sembari membungakam bibirku dengan tangannya ia bicara tegas padaku.

“Aku pamit dulu ya nam, daghhhh!!!” sambil berlari kecil sosok perempuan yang baru saja ada di depan pandanganku kini tlah berlalu tertiup angin.

Malam itu aku yang terbaring di atas kasur empukku kembali teringat sosok wiji, perempuan idamanku, tepat di sudut kamarku di sanalah tempat ku pajang foto wiji di dalam pigora di damping meja belajarku. Aku mulai beranjak dari karusku dan meraih foto yang terpanjang di mejaku itu. Sejenak kupandangi wajah ayu nan mempesona yang dimiliki wiji sang pencerah langkahku, entah mengapa dikala ku memandangnya jantungku seakan berhenti berdenyut & berirama tak menentu. Aku mulai malu kanra tlah menyukainya, sebab ialah yang mampu menerbangkan jiwaku ke langit-langit asmara.

Keesokan harinya kulihat wiji duduk sendiri di bundaran bawah pohon beringin yang ada di kampus kami, aku mulai menghampirinya.

“Hay ji, pa kabar hari ini??? Sapaku.

“Baik nam, Kalo kamu??? Sahutnya.

“Aku Alhamdulillah baik juga” ashutku padanya . Awalnya kami hanya ngobrol sana dan sini, tiba-tiba perasaanku mulai bergeming dalam sanubariku, akankah aku mampu mengutarakan isi hatiku pada perempuan yang selama ini menjadi patner, sahabat, sekaligus saudaraku? Ah masa bodoh, kini perasaanku tak sanggup lagi menahan hasrat cintaku pada wiji.

“Ekhmmm,,, aaa,,anu ji”. Tiba-tiba mulutku tegagap, mulutku seakan tercekat dan sulit mengeluarkan kalimat dengan lancer.

“Aaaaa,,,,anu apa sih nam??” tanyanya sambil meledek dan menirukan kegagapanku.

“Anu ji, “

“Anu apa sih, nam???” tanyanya penasaran.

“Mmmmmm, apa kamu sudah punya pacar???

“Apa nam???? Aku gak denger” tanyanya sekali lagi sembari pura-pura tidak terdengar.

“Aku Tanya apa kamu udah punya pacar???”. Tanpa kegugupan aku mampu bertanya dengan tegas padanya. Sambil menunjukkan raut wajah penuh harapan.

“Eeeeeehhh, Napa kamu Tanya gituan nam, tumben amat ngipi apa kamu semalam???”, belum!!! Napa mau daftar kah kamu???” ledeknya sambil tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahku.

“Wah kebetulan donk!!!”

“kebetulan bagaimana?, kamu semakin aneh deh nam!”. Sejenak ia terjingkat kerena kaget mendengar perkataanku.

“gini loh ji, sebenarnya sejak kita dulu bersama-sama, aku menyimpan rasa suka padamu, kau itu bagai sang pencerah langkahku yang selalu setia menemaniku”.

“Hahahahahahah , apa-apaan sih nam “. Dengan heran wiji tertawa sembari mumukuli pundakku.

“Aku serius ji, aku beneran suka sama kamu, jadi maukah kau menjadi kekasihku?’”. Wiji terdiam , Sejenak suasana menjadi hening. Semilir angin menerbangkan dedaunan di sekitar kami dan menghampas ke tubuh kami, kembali ku tunggu jawaban apa yang akan keluar dari bibir wiji, seketika aku sempat berfikir, mungkinkah aku akan ditolak wiji???, atau justru sebalikknya ia akan menerimaku sebagai kekasihnya?

“Ammmm gimana ya nam, oke deh!!!” jawabnya lantang.

“Apa ji???, jadi,,,,jadi,,,kamu menerimaku??? Kamu serius kan ji???” tanyaku terheran-heran.

“Iya”. Jawabnya tegas.

Wah, terimakasih ji kau tlah membuka hatimu untuk kutanami benih cintaku yang kini terkubur dalam jiwa yang sepi”.

“udah ah gak usah lebay”. Pintanya

“heheheheh, iya”

Sejak saat itu kami selalu berdua bagai burung dara yang tlah menemukan pasangan jiwanya, aku sempat tak percaya wiji, perempuan yang slami ini menjadi patner, sahabat, saudaraku, kini tlah jatuh kedekapannu dan menjadi perempuan pujaan hatiku sampai saat ini.

Surabaya, 01 Mei 2011

Pukul 19.00 Wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: