TAWARAN PERATURAN MOFKIP UMSURABAYA DARI BK

PERATURAN MASA ORIENTASI MAHASISWA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMMADIYAH SURABAYA
NOMOR:

TENTANG
PENGENALAN  FKIP AWAL KULIAH

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
1. Pengenalan Kampus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya dikenal dengan nama Masa Orientasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMSurabaya yang selanjutnya disebut MOFKIP UMSurabaya adalah rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh BEM FKIP UMSurabaya dalam rangka penyambutan mahasiswa baru.
2. Dewan Legislatif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMSurabaya yang selanjutnya disebut DLM FKIP UMSurabaya adalah lembaga legislatif mahasiswa di tingkat fakultas.
3. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMSurabaya yang selanjutnya disebut BEM FKIP UMSurabaya adalah lembaga eksekutif mahasiswa di tingkat fakultas yang dipimpin oleh seorang ketua BEM FKIP.
4. Bimbingan Konseling MOFKIP yang selanjutnya disebut BK adalah Panitia MOFKIP yang berfungsi sebagai badan peradilan sekaligus pengawas dalam pelaksanaan MOFKIP
5. Steering Committee yang selanjutnya disebut SC adalah Panitia MOFKIP yang dibentuk oleh Ketua BEM FKIP UMSurabaya yang bertugas menyusun konsep MOFKIP.
6. Organizing Committee yang selanjutnya disebut OC adalah Panitia MOFKIP yang dibentuk oleh SC yang bertugas melaksanakan MOFKIP sesuai konsep yang telah disusun oleh SC.
7. Koordinator Pendamping MOFKIP adalah pengawas pendamping yang dibentuk dari perwakilan masing-masing HIMAPRODI di lingkungan FKIP UMSurabaya di luar Panitia MOFKIP yang berfungsi mengawasi pelaksanaan MOFKIP yang berkedudukan dibawah BK.
8. Peserta adalah mahasiswa baru FKIP UMSURABAYA dan atau mahasiswa FKIP UMSURABAYA yang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti MOFKIP.

Pasal 2
MOFKIP berdasarkan religiusitas, moralitas, rasionalitas, kebebasan intelektual, partisipasi, kepedulian dan keilmuan.

Pasal 3
MOFKIP Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMSurabaya dilaksanakan satu tahun sekali bertempat di lingkungan FKIP UMSURABAYA dan sekitarnya.

BAB II
PANITIA MOFKIP

Pasal 4
Panitia MOFKIP terdiri atas:
1) Ketua BEM FKIP UMSURABAYA
2) Bimbingan Konseling MOFKIP (BK)
3) Steering Committee (SC)
4) Organizing Committee (OC)

BAB III
STRUKTUR DAN MEKANISME KEANGGOTAAN PANITIA

Pasal 5
Ketua BEM FKIP UMSURABAYA adalah penanggung jawab atas pelaksanaan MOFKIP.

Pasal 6
1. MP merupakan badan peradilan yang juga menjalankan fungsi pengawasan dalam pelaksanaan MOFKIP.
2. Keanggotaan MP berjumlah 3 (Tiga) orang yang terdiri atas 3 wakil dari HIMAPRODI FKIP UMSURABAYA.

Pasal 7
Kriteria anggota MP :
a. Dikenal baik di kalangan mahasiswa FKIP.
b. Berpengalaman dalam kepengurusan lembaga mahasiswa di FKIP.
c. Memahami konsep MOFKIP secara menyeluruh dari Panitia MOFKIP.
d. Memiliki tanggung jawab dan komitmen tinggi terhadap keberlangsungan MOFKIP FKIP.

Pasal 8
1. SC bertanggung jawab kepada Ketua BEM FKIP UMSURABAYA.
2. Keanggotaan SC ditentukan oleh Ketua BEM FKIP UMSURABAYA.

Pasal 9
1. OC bertanggung jawab kepada SC.
2. Ketua OC merupakan anggota SC.
3. Keanggotaan OC ditentukan oleh ketua OC dengan pertimbangan SC secara terbuka.

BAB IV
PEMBENTUKAN PANITIA MOFKIP

 

Pasal 10
1. Pembentukan SC mendahului pembentukan Panitia MOFKIP yang lain.
2. Pembentukan  dan OC dilakukan dalam waktu yang berdekatan guna optimalisasi fungsi pengawasan BK dan penjagaan terhadap Peraturan MOFKIP.

BAB V
HAK, KEWENANGAN, DAN KEWAJIBAN PANITIA MOFKIP

Pasal 11
1. Ketua BEM FKIP UMSURABAYA berkewajiban untuk menyelenggarakan MOFKIP seperti yang telah dilaksanakan oleh BEM FKIP UMSURABAYA periode sebelumnya.
2. Ketua BEM FKIP UMSURABAYA berhak :
a. memberi masukan kepada BK terkait dengan masalah yang terjadi dalam MOFKIP.
b. meminta keterangan kepada SC atas penyimpangan terhadap Peraturan MOFKIP dalam hal penyusunan dan penjagaan konsep MOFKIP.
c. meminta keterangan kepada SC atas penyimpangan yang dilakukan OC dalam pelaksanaan MOFKIP.

Pasal 12
1. BK berkewajiban dan berwenang untuk :
a. Menerima, memeriksa, mengadili, dan memutuskan masalah antar Panitia, internal Panitia, antar peserta dan Panitia, dan antar peserta.
b. Mengawasi pelaksanaan MOFKIP dengan berkoordinasi dengan coordinator Pendamping MOFKIP guna penjagaan terhadap Peraturan MOFKIP.
c. Mempertimbangkan masukan yang diberikan oleh Panitia, coordinator pendamping MOFKIP, dan peserta.
d. Menjalankan proses peradilan dengan mempertimbangkan asas keadilan, kemanusiaan, dan kemanfaatan berdasarkan Undang-Undang MOFKIP.
e. Menyusun tata tertib pelaksanaan MOFKIP secara umum bersama Panitia yang lain.
2. MP berhak :
a. Meminta penjelasan dari pihak-pihak terkait dalam penyelesaian masalah yang terjadi
b. Melakukan penyelidikan terhadap sengketa yang terjadi.
c. Menyelesaikan masalah yang terjadi antar Panitia MOFKIP dengan peserta.

Pasal 13
1. SC berkewajiban untuk :
a. Menyusun konsep secara umum, mengarahkan, dan mengawasi penyelenggaraan MOFKIP agar sesuai dengan konsep yang telah disusun.
b. Bertanggung jawab kepada Ketua BEM FKIP UMSURABAYA.
2. SC berwenang untuk :
a. Meminta penjelasan kepada OC tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan MOFKIP.
b. Memberi pertimbangan kepada OC tentang hal-hal yang berkaitan dengan konsep MOFKIP.
c. Mengawasi pelaksanaan MOFKIP yang dilaksanakan oleh OC dalam upaya penjagaan konsep MOFKIP yang telah disusun.
3. SC berhak :
a. Memberi pertimbangan kepada OC yang bersifat konseptual terhadap hal-hal yang belum diatur.
b. Bersama dengan BK, memberi pertimbangan mengenai jenis-jenis pelanggaran yang belum diatur dalam Undang-Undang MOFKIP.
c. Memberi masukan kepada MP berkaitan dengan proses peradilan.

Pasal 14
1. OC berkewajiban untuk :
a. Melaksanakan MOFKIP sesuai dengan konsep yang telah disusun oleh SC.
b. Memberi penjelasan tentang hal yang berkaitan dengan pelaksanaan konsep MOFKIP apabila diminta SC.
c. Mematuhi tata tertib panitia MOFKIP.
d. Menaati dan melaksanakan keputusan BK.
2. OC berhak untuk :
a. Meminta penyelesaian kepada BK bila terjadi sengketa dengan peserta.
b. Meminta penjelasan terhadap SC tentang hal-hal yang berkaitan dengan konsep MOFKIP.
c. Menyusun tata tertib peserta MOFKIP atas pertimbangan SC yang ditetapkan oleh ketua BEM FKIP UMSURABAYA

BAB VI
PESERTA

Pasal 15
1. Peserta berkewajiban :
a. Mengikuti minimal 75% acara yang telah ditentukan dengan sungguh-sungguh dan bersikap sopan.
b. Menjaga kelancaran jalannya acara MOFKIP.
c. Mentaati Peraturan MOFKIP dan tata tertib MOFKIP.
d. Mentaati dan menghormati keputusan BK.
2. Peserta berhak untuk :
a. Mengadukan ke BK bila terjadi permasalahan dengan Panitia MOFKIP, dalam hal ini adalah OC.
b. Meminta penjelasan dan tugas tentang instruksi yang diberikan.
c. Mendapat keringanan dari OC apabila memiliki gangguan kesehatan dengan melaporkan ke OC dengan membawa surat keterangan dokter atau alasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
d. Menyatakan keluar dan tidak mengikuti proses MOFKIP setelah mendapat izin dari panitia.
e. Menolak instruksi dari OC apabila instruksi tersebut bertentangan dengan norma agama dan norma kesusilaan.

BAB VII
KOORDINATOR PENDAMPING MOFKIP

Pasal 16
1. Pengawas MOFKIP terbentuk dari perwakilan HIMAPRODI di lingkungan FKIP yang telah ditunjuk untuk memnjalankan amanah sebagai Koordinator Pendamping
3. Koordinator Pendamping MOFKIP mulai aktif bekerja dari pembentukan sampai berakhirnya acara MOFKIP.
4. Kedudukan Koordinator Pendamping MOFKIP berada di bawah MP sebagai pelaksana fungsi pengawasan.
5. Koordinator Pendamping MOFKIP berkewajiban :
a. Menjaga ketertiban dan kelancaran jalannya MOFKIP.
b. Pengawas wajib memakai tanda pengenal yang jelas.
6. Pengawas MOFKIP berhak :
a. Ikut secara aktif mengawasi pelaksanaan MOFKIP.
b. Melaporkan pelanggaran atau sengketa antar Panitia, internal Panitia, antar peserta dan Panitia, serta antar peserta.
c. Pelaporan ditujukan kepada MP.
7. Pengawas MOFKIP tidak dibenarkan mengintervensi jalannya acara MOFKIP.

BAB VIII
PELANGGARAN DAN SANKSI

Pasal 17
1. Pelanggaran yang dilakukan peserta dibedakan menjadi :
a. Pelanggaran ringan.
b. Pelanggaran berat.

2. Pelanggaran ringan berupa :
a. Terlambat hadir kurang dari 15 menit.
b. Tidak menggunakan atribut yang ditentukan.
c. Tidak melaksanakan tugas yang ditentukan, maksimal 2 macam.
3. Pelanggaran berat berupa
a. Terlambat lebih dari 15 menit dengan alasan yang tidak dapat diterima.
b. Meninggalkan lokasi MOFKIP tanpa izin penanggung jawab acara yang sedang berlangsung atau ketua panitia.
c. Tidak melaksanakan tugas lebih dari 2 macam.
d. Adanya bentrok fisik pada saat pelaksanaan MOFKIP.
e. Melakukan perbuatan pidana.
f. Membawa dan mengonsumsi rokok pada saat pelaksanaan MOFKIP.
g. Membawa senjata api, senjata tajam, narkoba, dan minuman beralkohol.
h. Berkata tidak jujur dan atau bertindak curang.
4. Jenis pelanggaran yang belum diatur di dalam UU MOFKIP akan diatur dalam tata tertib MOFKIP.

Pasal 18
1. Sanksi yang diberikan tidak berupa hukuman fisik.
2. Sanksi berupa hukuman yang bersifat mendidik intelektual mahasiswa dan harus dapat dipertanggungjawabkan.
3. Sanksi tidak berupa tekanan mental yang tidak mampu diterima atau dilaksanakan oleh peserta secara wajar dan menimbulkan efek secara fisik maupun psikis.
4. Sanksi yang diberikan tidak merendahkan peserta baik berupa makian maupun dalam bentuk lain.
5. Sanksi yang diberikan harus dapat dijelaskan secara rasional.
6. Ketentuan sanksi yang belum diatur disini akan diatur dalam tata tertib MOFKIP.

BAB IX
PENEGAKAN HUKUM

Pasal 19

1. Laporan dapat diajukan oleh :
a. Ketua BEM FKIP UMSURABAYA
b. SC
c. OC
d. Koordinator Pendamping MOFKIP
e. Peserta
2. Laporan diajukan kepada BK

Pasal 20
1. Laporan disampaikan secara lisan atau tulisan yang berisi :
a. Identitas pelapor
b. Waktu dan tempat kejadian
c. Identitas pelanggar
d. Identitas saksi
e. Uraian kejadian
2. Laporan sebagaimana yang dimaksud pada nomor (1) disampaikan kepada MP selambat-lambatnya 2 jam sejak terjadinya pelanggaran atau sengketa dalam MOFKIP.

Pasal 21
BK menyelesaikan pelanggaran atau sengketa melalui tahapan sebagai berikut :
a. Menghadirkan pelapor atau pihak-pihak yang bersengketa
b. Menunjukkan sekurang-kurangnya dua bukti atas pelanggaran atau sengketa.

BAB X
PENUTUP

Pasal 22
Peraturan  ini berlaku sejak tanggal diundangkan.

Disahkan di Sekretariat BEM FKIP UMSURABAYA
Pada tanggal:

Pukul:
 

BK MOFKIP UMSURABAYA

(…………….)                                    ( …………………)                        (……………)

Iklan

Biaya Daftar Ulang Mahasiswa Baru Gelombang III

Daftar Penerimaan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSurabaya

Daftar Nama Mahasiswa Baru Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Tahun Akademik 2011/2012:

HIMAPBSINDO FKIP UMSURABAYA

Himaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas  Muhammadiyah Surabaya Mengucapkan

“Selamat menunaikan Ibadah Puasa”.

Pengumuman Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Prestasi II

HASIL SELEKSI PENERIMAAN MAHASISWA BARU
JALUR BEASISWA PRESTASI GELOMBANG II
TAHUN AJARAN 2011/2012

NO

NO FORM

NAMA

JURUSAN

KETERANGAN

1

110148

Prayogi Hari Widarti

Manajemen

LULUS TES

2

110150

Abdullah Hafizh Murtadha

Manajemen

LULUS TES

3

110275

Tanalin

Bhs. Inggris

LULUS TES

4

110276

Didik hermawan

Matematika

LULUS TES

5

110284

Isro’wahyu Cahyana

Perkapalan

LULUS TES

6

110314

Satria Unggul Prakoso

Hukum

LULUS TES

7

110327

Victoriyah Wijayanti

Manajemen

LULUS TES

8

110335

Evidah Nurlaili

Matematika

LULUS TES

9

110336

Zulkifli Hidayatullah

Syari’ah

TIDAK LULUS

10

110337

Syaiful Rizal

Syari’ah

TIDAK LULUS

11

110348

Nurul Wachidah

Matematika

LULUS TES

12

110377

Vide Nur Kholis

Syari’ah

TIDAK LULUS

13

110379

Muhammad Nashiruddin Amrullah

Arsitek

LULUS TES

14

110397

Indy Nurul Inayah

Informatika

LULUS TES

15

110402

Sutin Hidayati

Bhs. Indonesia

LULUS TES

16

110403

Rofikhoh Sholikah

Manajemen

LULUS TES

17

110412

Willys Ariani

Matematika

LULUS TES

18

110416

Ardhi Dwi Pranata

Bhs. Indonesia

LULUS TES

19

110419

Hendra Setiawan Eko Sulistiono

Manajemen

LULUS TES

20

110441

Dian Safitri

Akuntansi

LULUS TES

21

110478

Novika dewi A

Manajemen

LULUS TES

22

110497

Indra Fatwannisa

Informatika

LULUS TES

23

110509

Nur Rahman

Informatika

LULUS TES

24

110510

Nur Aini Azizah

informatika

LULUS TES

25

110538

Mohammad Rizal Firdaus

Tarbiyah

LULUS TES

26

110545

Fauzia Rahmawati

Arsitek

LULUS TES

27

110550

Vivi Diah Anggraini

Matematika

LULUS TES

28

110558

Ade Venti Noer Octavia

Bhs. Inggris

LULUS TES

29

110561

Nur Yandi Wahyono

Tarbiyah

LULUS TES

30

110562

Ulin Nuha

Biologi

LULUS TES

31

110563

Qonita Balqis

Manajemen

LULUS TES

32

110565

Muhammad Hudan Dardiri

Informatika

LULUS TES

33

110574

Ni’matul Lailiyah

Bhs. Inggris

LULUS TES

34

110583

Yuliana Indarwati

Bhs. Indonesia

LULUS TES

35

110585

Nilam Indah Cahyani

Biologi

LULUS TES

36

110601

Nurul Islam Baharudin

Biologi

LULUS TES

37

110624

Maftuchatus Saidah

Bhs. Inggris

LULUS TES

38

110626

Awaludin Iqbalul Mufti

Informatika

LULUS TES

39

110627

Ali Fauzi

Tarbiyah

LULUS TES

40

110633

Saifudin dwi I

sipil

LULUS TES

41

110634

Mohammad Zeni Kristanto

Informatika

LULUS TES

42

110638

Muhammad Khabibur Rohman

Tarbiyah

LULUS TES

43

110646

Erma Wijayanti Agustin

Akuntansi

LULUS TES

44

110651

Ulfa Mariati

Akuntansi

LULUS TES

45

110663

Nur Syaifatul Khusniyah

Akuntansi

LULUS TES

46

110667

Mohammad Tajul Mafachir

Syari’ah

TIDAK LULUS TES

47

110668

Musnidatul Millah Arief

Matematika

LULUS TES

48

110696

Ramadhani Isnaen Sutrisno

Perkapalan

LULUS TES

49

110709

Ummu Fauziah Dwi Ariska

Informatika

LULUS TES

50

110710

Selvi Marija

Bhs. Inggris

TIDAK LULUS

51

110715

Roudhotul Millah

Akuntansi

LULUS TES

52

110723

Izzatur Ro’ifah

Matematika

LULUS TES

53

110731

Agus Budiman

Bhs. Indonesia

LULUS TES

54

110732

Muchamad Chafid

Manajemen

LULUS TES

55

110735

Sheila Maulidyna Yusanti

Matematika

LULUS TES

56

110736

Dita Septina

Matematika

LULUS TES

57

110737

Devia Febriani

Bhs. Inggris

LULUS TES

58

110743

Hesty Nuraini

Bhs. Inggris

LULUS TES

59

110758

Ellayin Faridha

Biologi

LULUS TES

60

110760

Royyan Naziz Mustofa

Perkapalan

LULUS TES

61

110761

Ubaidillah Husni

Perkapalan

LULUS TES

62

110762

Agen Khoiri

Perkapalan

LULUS TES

63

110769

Safa’at Romadhani

Elektro

LULUS TES

64

110772

Yunan Imanu Dinul Haq

Bhs. Indonesia

TIDAK LULUS

65

110773

Anugerah Hilal

Bhs. Indonesia

TIDAK LULUS

66

110778

Nugroho Rhomadhon

Matematika

LULUS TES

67

110780

Fajar Masbachul Adam

Matematika

LULUS TES

68

110784

Yulis Setyowati

Akuntansi

LULUS TES

69

110788

Oktavia Sinta Dewi

Manajemen

LULUS TES

70

110789

Choirul Huda

Bhs. Indonesia

LULUS TES

71

110790

Moch. Sudrajad

Bhs. Inggris

LULUS TES

72

110792

Nurul Imam

Sipil

LULUS TES

73

110793

Nur Koirul

Akumtansi

LULUS TES

74

110797

Dwitya Rahmadia

Bhs. Indonesia

LULUS TES

75

110801

M. Shofil Mubarrok

Bhs. Inggris

LULUS TES

NB:
Terakhir Daftar Ulang: Senin, 22 Agustus 2011
download versi pdf.

WAWASAN KREATIF DALAM DUNIA PUISI

(Esai ini disarikan dari buku “Sejumlah Esei Sastra” karya Dr. Budi Darma, MA. dengan penyesuaian sewajarnya).
Muhammad Rain

Membentuk nilai dan mewariskan nilai merupakan dua hal berbeda. Nilai yang dimaksud di sini adalah nilai sastra, nilai kreatif berupa hasil wawasan seorang pengarang puisi. Membentuk nilai merupakan hal tak mudah dan perlu intensitas lebih. Bila dibandingkan dengan mewariskan nilai, maka kegiatan berkarya hanya berhasil pada sisi apresiasi, penghargaan terhadap pekerjaan-pekerjaan nilai yang sudah ada.

Membicarakan wawasan kreatif, kemampuan setiap pengarang memiliki jarak pencapaian masing-masing. Sebagai bagian dari masyarakat sastra, anggota masyarakat yang lebih luas di luar konteks bidang sastra belaka, bahkan sebagai pribadi, pengarang secara umum telah memperoleh inspirasi yang sama dengan masyarakat. Akan tetapi William Blake (63:1984) mempunyai pandangan dari segi yang berbeda. Dengan hanya memiliki kepekaan sosial dan kehendak untuk memperbaiki tata kehidupan, seorang pengarang hanya mampu menulis mengenai keadaan sehari-hari tanpa nuansa apa-apa. Tulisan semacam ini akan mirip dengan pikiran pembaca di koran mengenai fakta-fakta sosial. Dunia pikiran orang kebanyakan. Dari segi moral karya mereka memang baik, akan tetapi pembaca yang baik tidak mungkin tertarik. Pembaca yang baik tidak ingin diperlakukan sebagai orang dungu yang perlu dinasehati.

Menurut Rogen Fry (64:1984) dalam “The Artist’s Vision”, seorang seniman mempunyai kemampuan untuk membuat jarak dengan benda-benda yang akan digarapnya. Dengan kemampuan ini dia sanggup mengangkat apa yang tidak diperhatikan oleh orang lain menjadi suatu yang menarik. Kemampuan inilah yang dinamakan wawasan kreatif, yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Sementara itu, kebanyakan pengarang kita kurang memiliki wawasan tersebut.

Selain bakat, sikap juga menentukan wawasan kreatif. Sikap terlalu menginginkan hati pembaca benar-benar menjalar di sini. Seperti yang diimplikasikan oleh Goenawan Mohammad dalam Seks, Sastra dan Kita, sastra kita bersifat “Self-concious”. Kesadaran pengarang yang terlalu besar akan aspirasi masyarakatnya menjadikannya berlebih-lebihan, kurang wajar atau diam. Mereka meneriakkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu mereka teriakkan. Sebaliknya, karena ketakutannya menyinggung aspirasi masyarakatnya, mereka diam mengenai persoalan yang seharusnya mereka garap. Di samping itu, moral bukan kegiatan verbal semata-mata, meskipun yang diverbalkan adala moral yang bagus-bagus.

A. Teeuw malah berpendapat lebih ekstrim, “Puisi modern justru tidak member pelajaran apa-apa lagi secara langsung.” Amanat memang ada, akan tetapi proses untuk mencarinya “memerlukan lebih banyak sophistication, kenjlimetan, (dan) pengetahuan yang lebih luas.” Sebetulnya, bukan hanya pembaca yang dituntut untuk memiliki kemampuan “sophistication” untuk mencari moral atau amanat karya sastra, akan tetapi juga pengarang dalam menyampaikan moral atau amanatnya itu. Pengarang yang baik dapat mem-“sophisticate”-kan penyampaian moralnya, seperti yang kita lihat dalam karya-karya sastra yang monumental.

Selanjutnya dalam buku “Sejumlah Esei Sastra” karya Dr. Budi Darma, MA. Terbitan PT Karya Unipress, 1984 disampaikan juga jawaban-jawaban tentang bagaimana “sophistication” bisa lahir dan bersinergi dari hasil wawasan kreatif pengarang terutama dalam penyampaian moral berupa amanat suatu karya sastra. Kemampuan memancing pembaca untuk mau menggiatkan jalan pikirannya dalam menangkap nilai kreatif sang pengarang justru menjadikan dunia apresiasi tumbuh kembang, proses penggalian potensi nilai-nilai karya sastra dari bacaan mereka kemudian menjadikan karya pengarang dengan sendirinya fenomenal dan layak disebut bermutu tinggi. Hal ini tentu berbeda ketika pengarang sekadar mencatut ulang kenyataan tanpa memiliki teknik dan wawasan kreatif yang seimbang agar sastra memiliki perkembangan yang lebih dapat diharapkan. Persis.

Dunia puisi hari ini tentu berbeda jika kita bandingkan pada masa yang sudah-sudah. Puisi menjadi bukti bahwa nilai praktis dan keintimannya dengan tema yang disampaikan di masa sekarang semakin beragam. Para pengarang memiliki ruang lebih luas untuk menyuguhkan nilai yang berhasil ia tangkap lewat beragam media. Kejelian menawarkan tema-tema baru dan ekslusif dapat juga mereka peroleh lewat kesempatan membaca banyak puisi yang sudah tertayang atau tercetak itu. Potensi benturan tema sesamanya, kehadiran komunitas sastra dan persaingan kreatif dengan sendirinya akan mengantar wawasan kesusastraan pada diri masing-masing penulis.

Menyangkut nilai moral dalam sastra, Budi Darma membedah pula dalam isi bukunya berupa nilai humantit dan nilai kreativitas. Bentuk pengucapan yang “humanitat” menurutnya selalu terdapat dalam filsafat, seni dan agama. Pengertian nilai Humanitat itu sendiri sering mengalami perubahan, sesuai dengan keadaan jaman dan tergantung pula pada siapa yang mempergunakannya. Mengutip pendapat Immanuel Kant, dulu “humanitat” secara umum dimaknai sebagai sopan santun atau tingkah laku yang baik. Bagi Kant sendiri perkataan “humanitat” mempunyai arti yang lebih luas dan mendasar: manusia mempunyai prinsip, yakin akan kebenaran prinsipnya, akan tetapi akhirnya manusia harus rusak menghadapi pnyakit dan binasa melawan kematian. Implikasinya adalah bagaimana kita memanfaatkan sisa-sisa hidup kita untuk melaksanakan prinsip kita. Tentu saja prinsip di sini adalah yang sejalan dengan kepentingan moral.

Nilai puisi memiliki tuntutan standar yang adiluhung dengan sendirinya menuntut bentuk pengucapan yang adiluhung pula. Tuntutan standar nilai kreatifitas adiluhung ini menjadi batu sandar bagi pertumbuhan karya sastra yang hendak diciptakan pengarang. Batas-batas yang selanjutnya dapat diserupakan bagai menaiki anak tangga adiluhung itu sendiri. Seni selanjutnya dianggap sebagai suatu bentuk pengucapan yang paling menonjol dalam “humanitat” dibandingkan filsafat dan agama. Menurut J. Bronowski dalam Creativity, pencapaian manusia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu “creation”, “invention”, dan “discovery”. “Creation” atau kreativitas adalah pencapaian dalam dunia seni, “invention” dalam dunia ilmu pengetahuan dan demikian juga “discovery”. Di antara ketiga pencapaian ini, yang paling murni adalah kreativitas.

Berbeda dengan “invention” dan “discovery”, kreatifitas bersifat sangat personal. Marilah kita bayangkan, William Shakespeare meninggal sebelum sempat menulis Othello. Kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi: tidak akan ada satu orang pun yang akan dapat menulis Othello seperti yang ditulis oleh Shakespeare. Othello yang ditulis oleh orang lain pasti akan mempunyai corak lain, yang berbeda dengan corak khas Shakespeare. Karena itulah kreativitas mempunyai sifat yang sangat personal, yang tidak dapat digantikan oleh orang lain.

Dengan demikian nilai-nilai personal adalah pencapaian tertinggi dari suatu kinerja berkarya sastra. Keefektifan yang berhasil dicapai oleh seorang pengarang bahkan calon pengarang diawali dari menemukan nilai-nilai personal yang telah ada dalam dirinya, meskipun hal ini tanpa didukung adanya nilai bakat maupun darah seni dari keturunan pengarang-pengarang itu. Selanjutnya dalam proses menghasilkan puisi yang baik dan bermutu, penulis harus mampu menyisihkan keberagaman seni kepenulisan masing-masing pendahulunya, mereka yang telah memiliki nilai personal secara kreatif itu harus mampu dijadikan model pembanding, bukan justru sebagai model apresian, model plakat dan cenderung selanjutnya mengepung pengarang-pengarang muda terus berada dalam lingkaran-lingkaran nilai yang telah ada diciptakan oleh pendahulu mereka. Bukan justru menciptakan nilai baru, personaliti murni dan mataperah potensi kreatif orang lain. Mereka para pengarang yang ketika disebut nama dirinya telah berada dalam kesusastraan yang berhak.

11 Agustus 2011

Sastra dan Identitas

Elisa Dwi Wardani

http://www.kr.co.id/

Pada umumnya, pembicaraan mengenai identitas dipandang perlu ketika identitas berada dalam suatu krisis. Hal ini mengingatkan kita kepada dua pandangan yang bertentangan mengenai identitas.

Pandangan yang pertama adalah pandangan essentialism yang percaya bahwa identitas bersifat tetap, universal, dan tidak terpengaruh oleh wacana dari luar.

Dari sudut pandang tersebut, identitas menjadi tidak mungkin untuk berubah sehingga pengaruh-pengaruh dari luar dianggap sebagai ancaman terhadap keutuhan sebuah identitas. Pandangan inilah yang melahirkan berbagai stereotip yang beredar di sekitar kita.

Sebaliknya, pandangan anti-essentialism meyakini identitas sebagai sesuatu yang bersifat cair, terbentuk oleh wacana-wacana dari luar yang kemudian diinternalisasi dan menjadi bagian dari diri seseorang, serta bahwa identitas merupakan penstabilan makna secara temporer.

Pandangan anti-essentialism yang postmodernis tersebut melihat identitas sebagai sebuah konstruksi yang dipengaruhi oleh berbagai wacana dari luar yang saling terkait. Hal tersebut memungkinkan seseorang untuk mengikatkan dirinya pada lebih dari satu konstruksi identitas pada saat yang bersamaan atau mengikatkan dirinya kepada konstruksi makna yang lain di lain waktu.

Identitas di dalam postmodernisme sangat terkait erat dengan bahasa karena pembentukan identitas seseorang tidak lepas dari bahasa. Identitas diri seseorang bahkan terdiri dari dan terbentuk oleh bahasa.

Bahasa dan praktik berbahasa menurut Foucault, sanggup menempatkan seseorang pada posisi sebagai subjek dalam bahasa, misalnya sebagai “perempuan”, “laki-laki”, “homoseksual”, “gila”, “orang asing”, dan sebagainya.

Lebih dari itu, bahasa dan praktik berbahasa juga dapat dipakai sebagai alat untuk memposisikan seseorang sesuai dengan keinginan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan manusia-manusia yang bisa diperlakukan sesuai keinginan, yang bisa diukur, dinilai, dilatih, dihukum, disiksa dan sebagainya.

Dengan demikian, bahasa bisa dimanipulasi oleh kekuasaan untuk tujuan-tujuan tertentu. Sebagai media dalam sastra, bahasa memiliki kekuatan untuk menjadi salah satu diskursus yang membentuk identitas.

Sebagaimana dikatakan oleh penyair Taufiq Ismail, penyair adalah penguasa kata-kata. Walaupun seorang penyair, seperti kata Taufiq Ismail, mungkin tidak mengendalikan kata-kata secara otoriter, memangkas atau mencukur” namun penyair juga “membiarkan kata-kata mengukur emosinya, dan bernikmat-nikmat dengan kata-kata untuk mendapatkan pencerahan.”

Sebagaimana teks adalah bukan sesuatu yang muncul dari kehampaan yang mandiri namun dibentuk oleh suatu praktik diskursus, maka pencerahan sang penyair tersebut tentunya berasal dari pemaknaan sang penyair pribadi mengenai wacana-wacana yang ada di sekitarnya.

Ideologi sang penyair pada gilirannya akan direproduksi dalam representasi yang terwujud dalam karya sastra. Dengan kata lain, pada akhirnya kuasa yang ada dalam kata-kata yang diolah oleh seorang penyair akan menghasilkan sebuah realitas tersendiri.

JK Rowling dan serial Harry Potter-nya yang mengisahkan tentang seorang anak yang memasuki sekolah penyihir Hogwarts sempat menimbulkan reaksi hebat di kalangan pembacanya.

Dalam sebuah wawancara JK Rowling mengakui bahwa dia menerima banyak surat dari anak-anak yang dialamatkan kepada Profesor Dumbledore, kepala sekolah penyihir Hogwarts, yang meminta supaya mereka bisa diterima di sekolah tersebut.

Beberapa dari para pengirim surat tersebut menyatakan bahwa mereka sangat sedih dan sangat berharap bahwa sekolah penyihir tersebut benar-benar ada. Hal ini menunjukkan betapa karya sastra adalah sebuah reproduksi yang mampu menjadi realitas itu sendiri.

Batas antara realitas dan representasi telah menghilang, karena representasi sekarang telah menjadi sebuah realitas. Apa yang khas mengenai sastra menurut Ignas Kleden adalah sifat dialektikanya yang menghubungkan makna tekstual dan makna referensial, dan kemampuan sastra untuk mengedepankan makna tekstual. Hal ini menjelaskan bagaimana karya sastra bekerja.

Realitas yang terbentuk dalam karya sastra menurut Lacan bagaikan cermin yang merupakan refleksi yang palsu dari identitas diri kita yang sesungguhnya karena ia hanya memberikan sesuatu yang bersifat imajiner. Meskipun demikian, sepanjang hidup kita, kita selalu mencari keotentikan dan identitas kita dalam ilusi yang sayangnya tergantung dari cara orang lain menunjukkan bagaimanakah wujud kita tersebut.

Karya sastra yang terdapat di seputar kita boleh dikatakan menjadi salah satu diskursus yang saling terkait dengan diskursus-diskursus lain yang saling berebut untuk menjadi sebuah point of attachment bagi konstruksi identitas kita.

Abad ke 21 sering disebut-sebut sebagai abad di mana kemajuan teknologi berkembang pesat yang menyebabkan menghilangnya batas-batas. Dampaknya, manusia akan terhubung satu dengan yang lainnya seolah-olah tanpa ada waktu, ruang dan tempat yang membatasi.

Kondisi tersebut memiliki potensi untuk mengaburkan identitas manusia itu sendiri. Dengan keterbukaan ala globalisasi, manusia nampak menjadi homogen. Dalam hal inilah sastra sebagai salah satu diskursus pembentuk jati diri memiliki peluang untuk ikut menstabilkan makna jati diri seorang manusia.

Ketika batas-batas membaur, dan bukan hanya batas-batas antar ruang dan waktu saja yang membaur, namun juga batas-batas antara disiplin ilmu, maka persoalan-persoalan akan membutuhkan pendekatan yang lebih interdisipliner.

Barangkali tidak berlebihan apabila sastra dinantikan sebagai sebuah agen yang mampu mengkonstruksi identitas, yang akan mampu untuk ikut menjawab tantangan mengenai persoalan identitas manusia.

*) Elisa Dwi Wardani, Dosen Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma **) Artikel ini kerja sama Fakultas Sastra. Universitas Sanata Dharma dengan KR.
10/05/2008 (sumber: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=162722&actmenu=39)